Ada Apa Dengan Rilis Mubalig

Posted by on May 28, 2018 | Leave a Comment

Munculnya 200 daftar nama mubalig penceramah Islam di Indonesia, pada Jumat (18/5/2018) oleh Menteri Agama menimbulkan tandatanya masyarakat apalagi memasuki tahun politik dan bulan Ramadhan yang biasanya memang setiap mesjid melaksanakan kegiatan mengundang para mubalig untuk ceramah disela sela sholat isya dan taraweh.

Mungkin niat kementerian agama ada baiknya agar jangan nanti timbul agama-agama baru namun mengataskan namakan Islam seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya sehingga perlu mendata dan didaftarkan nama-nama yang layak untuk menjadi dai atau penceramah.

Namun ironinya dari daftar nama-nama tersebut beberapa dai kondang yang mempunyai jamaah yang besar dan sudah teruji dimasyarakat malah tidak terdaftar di 200 nama tersebut sementara nama mubalig yang sudah mati terdaftar pula didalamnya, tentu saja kepercayaan masyarakat atas daftar rilis yang dibuat Kemenag tersebut menjadi pudar dan ini dikhawatirkan akan menimbulkan kegaduhan baru. Terlebih bila masyarakat sudah mengagumi sosok ulama teladan mereka namun tak masuk dalam daftar.

Seharusnya rilis nama-nama mubalig dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai perpanjangan tangan pemerintah sehingga bisa terdata dengan baik dan tidak menimbulkan kecurigaan besar dan dimungkinkan akan semakin berkurangnya simpati sebahagian besar masyarakat Islam kepada pemerintah saat ini.

Bahkan lebih baik lagi dilakukan di masing-masing MUI daerah sehingga diharapkan keinginan pemerintah melalui Kementerian Agama untuk mendata mubalig-mubalig yang kriterianya telah ditetapkan mungkin bisa tercapai.

Biasanya dari pemerintahan terdahulu jika pemerintah yang membuat daftar rilis maka mempunyai tujuan akan memberikan intensif kepada para nama-nama yang terdaftar berupa honor dan bukan hanya didaftar saja.

Kalau hanya mendaftar dengan tujuan dikarenakan Kementerian Agama sering dimintai rekomendasi mubaligh oleh masyarakat tentu saja akan menimbulkan pra sangka negatif yang akhirnya sekali lagi menimbulkan kegaduhan baru.

Selain itu dengan rilisan yang terekomendasi tersebut, memunculkan opini bahwa ada ulama terstandar dan tidak terstandar dari Kemenag sehingga hal itu akan menghancurkan ikatan ukhuwah Islamiyah antar umat Islam dan para ulamanya.

Saat ini persaudaraan antar sesama dirasa sudah semakin menipis lihat saja pergaduhan di media sosial seperti tidak terkendali, padahal undang-undang IT sudah dibuat namun bahasa-bahasa permusuhan yang tiada batas semakin menguat, kekhawatiran pepecahan antar sesama semakin mencuat dan tentu saja polemik perpecahan ditakutkan akan semakin meruncing, ditambah lagi munculnya rilis nama-nama mubalig yang dirasa akan menambah polemik tersebut.

Untuk itu diharapkan pemerintah bijak dengan memikirkan kembali perlunya rilis nama-nama mubalig dengan tujuan untuk Indonesia yang aman dan tentram.

Apalagi memasuki tahun politik membuat pikiran negatif bisa timbul ditambah kasus kejadian Pilkada DKI yang mungkin dalam pemikiran banyak orang pemerintahan Jokowi akan menyetir atau menekan ulama untuk tidak berpolitik atau menjelek-jelekan dimasa kepemerintahannya, padahal kemungkinan bisa bakal jadi boomerang bagi Presiden Jokowi yang akan maju lagi untuk kedua kali.

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here