Agar Dapat Bersaing Dengan BUMN PT.DGI Suap DPR

Posted by on Oct 29, 2018 | Leave a Comment

Jakarta – KoranAntiKorupsi Lewat mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, Mantan Direktur PT Duta Graha Indah, Mohammad El Idris mengakui bahwa perusahannya telah memberikan uang kepada anggota DPR.

“Fee nya satu pintu melalui Anugrah,” kata Idris, saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 24 Oktober 2018, untuk terdakwa PT DGI atau yang kini berganti nama menjadi PT Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE).

Menurut Idris, proyek-proyek pemerintah yang dikerjakan DGI didapat atas bantuan Muhammad Nazarudin beserta korporasi yang dikendalikannya yakni PT Anak Negeri, PT Anugerah Nusantara dan Permai Group.

Menurut Idris, sejak awal PT DGI ditawarkan Muhammad Nazaruddin untuk mengerjakan proyek yang dibiayai oleh APBN. Namun, perusahaan yang akan diberikan pekerjaan adalah perusahaan yang berani berikan fee paling besar.

Idris mengatakan, PT DGI terpaksa memberikan fee untuk dapat bersaing dengan kontraktor dari BUMN, seperti PT Wijaya Karya , PT Nindya Karya dan PT Pembangunan Perumahan (PP), dan PT Waskita Karya. Dengan fee tersebut PT DGI bisa bersaing dengan perusahaan BUMN dalam mengerjakan proyek pemerintah.

“Awalnya, fee nya itu besar karena kami saingan dengan BUMN. Selebihnya lebih gampang, apalagi setelah Nazaruddin jadi anggota DPR,” kata El Idris.

Menurut Idris, saat pertama kali mendapatkan proyek, PT DGI harus memberikan fee dalam jumlah besar. Namun, dalam proyek berikutnya, jumlah fee yang harus diberikan dapat lebih rendah.

“Awalnya fee nya gede, karena saingan sama BUMN. Tahun kedua, dia (Nazaruddin) sudah kenal kita kerjanya bagus, kita tawar fee nya dan mereka mau,” kata Idris.

Setelah PT DGI mendapatkan pembayaran atas proyek dikerjakan, PT DGI menyerahkan fee kepada Nazaruddin melalui perusahaan yang dikendalikan. Uang itu untuk menggantikan fee kepada anggota DPR yang lebih dulu dibayarkan Nazaruddin.

“Setelah kami dapat pembayaran, kami berikan fee-nya ke mereka. Kami proporsional, per termin pembayaran,” kata Idris.

PT DGI yang telah berganti nama menjadi PT NKE didakwa memperkaya korporasi sendiri senilai ratusan miliar rupiah dalam proyek pemerintah. Perbuatan itu diduga membuat kerugian negara sebesar Rp25,95 miliar.

Dalam persidangan, pihak korporasi selaku terdakwa diwakili oleh Djoko Eko Suprastowo yang menjabat Direktur Utama PT NKE.

Menurut jaksa, PT DGI secara melawan hukum membuat kesepakatan memenangkan perusahaannya dalam lelang proyek Pembangunan Rumah Sakit Khusus Infeksi dan Pariwisata Universitas Udayana Tahun Anggaran 2009 dan 2010.

PT DGI dianggap memperkaya diri sendiri atau selaku korporasi sejumlah Rp24,77 miliar. Kemudian, perkaya M Nazarudin serta korporasi yang dikendalikannya yakni PT Anak Negeri, PT Anugerah Nusantara dan Permai Group sejumlah Rp10,29 Miliar.(INT/BEN)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here