Berantas Hoaks, Polisi Diminta Tak Tebang Pilih

Posted by on Mar 05, 2018 | Leave a Comment

Jakarta – Kpkpos Upaya kepolisian memberantas kelompok siber penyebar hoax dan anjuran kebencian yang cenderung diskriminatif, dinilai akan semakin merusak citra polisi di mata masyarakat. “Karena tindakan kepolisian hanya berlaku terhadap kelompok siber oposisi, tapi kelihatan ogah-ogahan memberantas kelompok siber yang berada di posisi pemerintah,” kata Ketua Dewan Pembina Tim Pengacara Muslim Pusat Mahendradatta, Kamis (1/3).

Bila sikap pilih kasih aparat ini dibiarkan, menurutnya, bukan sekadar citra polisi di mata masyarakat. Namun, juga menurunkan citra pemilih Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ia berkata, saat ini pemilih baru pasti bertambah dan melihat sendiri kenyataan ini. Menurut dia, Polri benar-benar menyerempet bahaya karena bila Jokowi ternyata tidak terpilih lagi, institusi Polri akan menjadi pertaruhannya.

“Institusi Polri dapat dipandang diskriminatif dalam hal ini. Bila mereka yang dirugikan kemudian berkuasa, justru menempatkan Polri pada posisi yang canggung,” katanya.

Harus Ditangkap

Sementara itu Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013 Mahfud MD menilai setiap pembuat hoaks atau berita bohong harus ditangkap. Perilaku mereka telah menimbulkan rusuh di tengah masyarakat.

“Kalau ada yang dengan sengaja membuat fitnah dan adu domba seperti banyak kiai dibunuh oleh orang gila sementara kenyataannya tidak, semua ditangkap saja,” kata dia, usai pidato kebangsaan dengan tema Revitalisasi Peran Agama, Budaya dan Negara Dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa, sebagai bagian perayaan Cap Go Meh, di GOR Himpunan Tjinta Teman, Padang, Kamis (1/3) malam.

Mahfud menyatakan ada aturan yaitu Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik hingga diatur dalam KUHP untuk menghadapi pelaku hoaks. Ia menyampaikan walaupun dalam menyebar hoaks menggunakan embel-embel muslim atau tidak, tetap harus ditangkap.

“Itu semuanya politik saya kira, jadi harus ditangkap,” ujarnya lagi.

Sebelumnya, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan sedikitnya lima tersangka telah ditetapkan atas dugaan kasus penyebaran hoaks dan provokasi melalui media sosial yang dikenal dengan “The Family Muslim Cyber Army” (MCA). “Tersangka, terakhir lima. Ini masih dalam proses. Kami kan tidak melihat ini siapa tadinya, tetapi faktanya ada berita ini. Kami lacak dapatnya begitu. Kami masih dalam proses pendalaman,” kata Ari Dono.

Kepolisian RI telah menangkap sedikitnya lima orang yang tergabung dalam grup percakapan WhatsApp MCA. Kelima tersangka tersebut ditangkap di daerah berbeda, yakni di Tanjung Priok (Jakarta Utara), Pangkal Pinang, Bali, Sumedang, dan Palu.

Berdasarkan barang bukti yang diperoleh Polri, kelompok MCA menyebarkan isu provokatif dan kabar bohong terkait isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) melalui jaringan komunikasi WhatsApp.(in)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here