Dana Desa Bumdes Nagori Kerasaan II Terindikasi Mark Up

Posted by on Jan 07, 2019 | Leave a Comment

Bantuan-TernakSimalungun – KoranAntiKorupsi Anggaran dana desa Nagori Kerasaan II, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun tahun 2018 yang digelontorkan disoalkan warga. Pasalnya, anggaran dana Desa tahun 2017 dan 2018 yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) terindikasi Mark Up.

Informasi yang di himpun dari lapangan Kamis (3/1) sekira jam 10,00 wib. Dari penelusuran langsung dilapangan bahwa dana desa tahap III di belanjakan ternak sapi sebanyak 20 ekor, kata Sekretaris Desa Rina Martin saat ditemui di kantornya. Namun dirinya tidak mengetahui berapa pagu anggaran yang di belanjakan untuk ternak.

Begitu juga dengan tahap I, yang diperuntukan untuk bengkel las. Dan tahap II di peruntukan untuk mobil odong-odong permainan anak-anak, saya tidak tahu berapa pagunya, cetus Rina. Semua pekerjaan itu pengurus Bumdes yang mengelolanya, ucapnya.

Ketika wartawan meminta kepada Rina untuk menghubungkan ke pengurus Bumdes untuk konfirmasi, sang Sekdes pun berdalih tidak mengetahui dan menyimpan nomor kontak para pengurus Bumdes.

Padahal dalam laporan pertanggungjawaban (LPJ), Rina yang menjabat sebagai Sekdes juga ikut menandatangani LPJ tersebut sementara ketika dikonfirmasi terkait pagu anggaran Rina Martin dengan entengnya menjawab tidak mengetahui besar anggaran untuk setiap kegiatan.

Terpisah, Pangulu Nagori Kerasaan II, Rudi Hartono ketika di konfirmasi di kantornya sedang tidak berada di tempat. Di hubungi via seluler terdengar nada tersambung dari seberang namun tidak di angkat.

Pantauan di lokasi kandang ternak sapi milik Bumdes, dari 20 ekor sapi yang masih terlihat sebanyak 8 ekor. Menurut warga sekitar, sapi tersebut belum semua datang katanya akan menyusul. Ketika di pertanyakan siapa yang mengurus sapi tersebut menurut warga belum ada. Karena belum jelas sistim bagi hasilnya. Menurut mereka informasi harga pembelian sapi tersebut rata-rata Rp 12,000,000. Setelah di pelihara berapa pula harga jualnya lagi, ucap warga.

Melihat kondisi sapi dilokasi kandang, Sinaga dan Sugino yang biasa jual beli sapi mengatakan. Harga sapi tersebut di perhitungkan seharga Rp8,5 juta – Rp10 juta per ekornya

Papan informasi juga tidak di temukan di kantor Pangulu. Padahal papan informasi secara detail atas penggunaan anggaran DD itu sangat di perlukan agar masyarakat mengetahuinya. Sepertinya Pangulu tidak peduli tentang” Permendagri Nomor 54 tahun 2016 tentang laporan Pangulu atau keterbukaan sistim informasi,dan Perpres No 54 tahun 2010 dan Perpres No 70 tahun 2012.(sal)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here