Di Balik Penjara, Anas Serang SBY

Posted by on Apr 14, 2014 | Leave a Comment

anasJakarta – Kpkpos Sejak mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 10 Januari 2014, baru kini bekas Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum secara terang-terangan menyatakan “perang” melawan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang kini juga menjabat Ketua Umum Demokrat.

Anas mulai “menabuh genderang perang” dengan menyiapkan data kejanggalan sumbangan dana kampanye SBY pada Pemilihan Umum 2009, ketika SBY maju sebagai calon presiden inkumben. Data itu, bakal diserahkan ke Direktorat Pengaduan Masyarakat KPK.

“Jadi, kalau dibilang saya menyerang Pak SBY, saya bilang, memang iya. Ini hanya untuk memberi respons terhadap apa yang saya alami dari sikap dan tindakan SBY terhadap saya,” papar Anas di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi usai menandatangani perpanjangan penahanan dirinya, di kantor KPK Jakarta, Senin (7/4).

Ditanya tindakan apa yang telah dilakukan SBY, Anas enggan menjawabnya. “Yang bertanya (wartawan) lebih tahu dari yang ditanya,” ucap Anas.

Data itu, lanjut mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (MHI), masih disusun. Data ini diyakini bisa mempidanakan presiden SBY. “Data yang saya buat supaya para penelaah KPK lebih mudah melakukan tugasnya. Saya yakin SBY masuk kategori sebagai penyelenggara negara yang melakukan korupsi dan pencucian uang,” ungkapnya dengan nada serius.

Menurut dia, rampungnya data ini tak ada hubungannya dengan pemilu legislatif yang akan berlangsung 9 April 2014. “Sebelum atau sesudah pemilu legislatif, yang penting data ini lengkap,” jelasnya.

Di dalam data tersebut, Anas akan menjabarkan soal banyaknya penyumbang gelap untuk dana kampanye SBY. Data tersebut, menurut Anas, bakal berbeda dengan laporan dana kampanye yang dikeluarkan Demokrat.

“Di dalam laporan Demokrat, ada nama-nama orang yang ditulis menyumbang, padahal sebenarnya tidak menyumbang. Uang Demokrat sumbernya tak tercatat di laporan itu,” ujarnya.

Dikatakan, sumber dana yang tak tercatat itulah yang harus diselidiki. “Apakah salah satunya ada kaitan dengan kasus Bank Century atau tidak. Itu bukan tugas saya karena tugas saya hanya memberikan data yang valid, otentik, dan bukan fitnah,” kata Anas.

Dipaparkan, pengungkapannya menjelang Pilleg ini, bukan untuk menyerang Partai Demokrat menghadapi Pemilu dan bukan kampanye hitam. “Sebagai bekas ketua umum, tak etis menyerang eks partainya. Buat apa menyerang Demokrat? Sahabat Anas sedang nyaleg di DPR dan DPRD. Tak ada kamusnya Anas menyerang Demokrat,” lontarnya dengan nada tersenyum.

Memang, sejak ditahan di Rumah Tahanan KPK, Anas kerap melontarkan pernyataan yang bernada menyerang SBY. Belakangan, Anas meminta KPK menyelidiki dugaan aliran dana bail out Bank Century untuk pemenangan SBY dalam Pemilihan Presiden 2009.

Tim pengacara Anas juga menyebut SBY memberikan uang kepada Anas. Uang itu digunakan untuk membayar uang muka mobil Toyota Harrier. Kini, Toyota Harrier itu menjadi salah satu barang bukti dugaan korupsi yang menjerat Anas.

Selain menuding SBY, pengacara Anas juga menyebut Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menerima uang 200.000 dollar AS. Namun, tim pengacara Anas enggan menjelaskan lebih jauh latar belakang penerimaan uang oleh Ibas tersebut.

Anas juga mengaku menyerahkan informasi dan data terkait dana kampanye pilpres 2009, yang diduga menggunakan sumber yang disamarkan. Data itu berisi hasil audit akuntan independen tentang penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pilpres 2009.

Dari data awal itu tampak bahwa dari daftar penyumbang, apakah itu perseorangan atau korporasi yang jumlah totalnya Rp 232 miliar. Itu ada sebagian data penyumbang perseorangan dan korporasi yang sesunguhnya tidak menyumbang atau hanya dipakai namanya saja,” ungkap Anas sebelumnya.

Anas menyerahkan data tersebut kepada KPK karena layak diselidiki atau ditindaklanjuti oleh lembaga antikorupsi tersebut. Apalagi, mantan Ketua Umum Partai Demokrat (PD) tersebut mengaitkan sumbangan dana menggunakan sumber fiktif tersebut dengan kasus dugaan pemberian bailout (dana talangan) ke Bank Century yang jumlahnya mencapai Rp 6,7 triliun.

Tudingan kecurangan yang dilontarkan Anas diduga mengarah kepada SBY, yang pada pilpres tahun 2009 maju sebagai calon presiden dari PD. Mengingat, berkembang isu bahwa dana bailout Bank Century mengalir untuk kampanye pilpres PD tahun 2009.

Di tempat terpisah, Juru Bicara KPK, Johan Budi SP menyarankan Anas untuk melaporkan dugaan ataupun kecurigaannya terkait  kejanggalan sumbangan dana kampanye SBY pada Pemilihan Umum 2009. “Hingga kini KPK belum menerima data dari Anas. Ya, lebih baik data itu disampaikan ke bagian pengaduan masyarakat KPK,” sarannya. (endy)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here