Disaat Lambang Agama Salah Tempat

Posted by on Apr 30, 2018 | Leave a Comment

Memasuki tahun politik apalagi kali ini Pilkada dilaksanakan secara serentak membuat banyak masyarakat bertambah peka terhadap situasi yang ada.

Memilih dukungan kepada salahsatu calon Kepala Derah (KDH) atau presiden oleh partai yang sah didalam sistem demokrasi adalah wajar, apalagi calon yang akan maju memang membutuhkan dukungan dari partai-partai yang ada. Dan setiap partai berhak menentukan siapa calon kandidat yang akan diusungnya menjadi orang nomor sesuai dengan undang-undang.

Pilkada kali ini di Sumatera Utara sepertinya lebih sedikit memanas walau pilkada sebelumnya isu agama juga menjadi salahsatu instrumen yang empuk untuk dimainkan dalam pemenangan, apalagi pelajaran dari pemilihan KDH di DKI Jakarta.

Seperti viralnya di media sosial (medsos) foto spanduk yang dipasang disalah satu kedai minuman keras dimana didalam spanduk itu ikut terpampang salahsatu partai yang berlambangkan rumah ibadah umat muslim yang menjadi pendukung paslon tersebut.

Mungkin kalau hanya spanduk paslon saja terpampang dinilai wajar walaupun disana tertera partai tersebut karena hal itu tidak bisa dihindari, sebab siapa saja bebas memasangkan spanduk jagoannya, Namun dirasa menjadi tidak wajar saat dispanduk tersebut dipampangkan nama usahanya, sementara usaha tersebut bagi umat Muslim adalah sesuatu yang diharamkan.

Akhirnya spanduk tersebut menyebar tanpa terbendung, ungkapan kekesalan meluncur dari tulisan dinding wall beberapa pengguna facebook.

Disisi lain mungkin pihak partai tersebut (bisa saja) tidak tahu atas pembuatan spanduk tersebut apalagi dari berita yang didapat bahwa banyak kader di Sumatera Utara sempat/atau tidak setuju atas dukungan yang diberikan kepada sang paslon, sebab keputusan tersebut diambil langsung oleh Pengurus Pusat.

Namun berpulang dari itu semua hal ini bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk mungkin dibuat peraturan tambahan tentang pemasangan spanduk yang akhirnya tanpa disadari bisa membuat rusaknya nama baik dari partai tersebut, bahkan agama itu sendiri.

Atau lebih ekstremnya lambang partai tidak boleh menggunakan lambang agama walau berazaskan agama  itu sendiri sebab dikhawatirkan akan terjadi penempatan yang tidak selayaknya sehingga tidak terjadi salahsatunya menyulutnya gorengan isu agama sehingga menjadikan agama benar-benar sebagai sebuah yang sakral alias tidak terikut serta dalam politik hitam atau digunakan untuk kepentingan pribadi dari kelompoknya namun bukan dari kelompok agama tersebut.

Seperti layaknya media massa yang dilarang menggunakan nama lembaga negara, mungkin sepatutnya hal ini perlu menjadi pemikiran untuk kebaikan bersama.

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here