Disaat Sang Pemenang Dunia Tanpa Bendera Dan Pelukan Hangat

Posted by on Jul 16, 2018 | Leave a Comment

Disaat hiruk pikuk kejuaraan bola dunia 2018. disaat para politikus sibuk dengan jabatan, belum lagi kehebohan pejabat yang ditangkap tiba-tiba muncul nama Lalu Muhammad Zohri Pemuda 18 tahun yang berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Dunia U20 IAAF di Finlandiadengan dengan catatan waktu 10.18 detik pada nomor 100 meter .

Masyarakat Indonesiapun tersentak adanya anak bangsa bisa menjadi juara dunia apalagi di bidang olahraga yang tidak pernah bakal diraih untuk menjadi yang pertama terbukti dalam 32 tahun sejarah Kejuaraan Dunia U-20 IAAF diajang tersebut Indonesia tidak pernah diperhitungkan sehingga ini menjadi persembahkan gelar pertama untuk Indonesia di kejuaraan dunia atletik u20 yang bergengsi tersebut, sehingga berita tentang dirinya memenuhi hampir seluruh media setiap harinya, mulai dari media cetak, media elektronik hingga media sosial.

Memang selama ini namanya tidak pernah tergaung walau segudang prestasi telah diraih sebelumnya tetap saja setiap mata tidak pernah ketuju pada dirinya namun saat dia berhasil mengukir prestasi dunia, ramai-ramai mulai dari pejabat hingga masyarakat rendah mengeluk-elukan namanya bahkan segudang rejeki dijanjikan kepada dirinya, mulai dari uang, rumah hingga pekerjaan.

Siapa yang menyangka Lalu Mohammad Zohri yang ditempatkan di sisi paling kanan. Sisi yang bukan favorit. Semua pemenang pertama di babak penyisihan ditempatkan di tengah. tetapi Zohri sanggup membalikkan semuanya, Ia bisa mengalahkan lawan-lawannya di Finlandia mengungguli para favorit juara seperti duo Amerika, Anthony Schwartz (10.22) dan Eric Harrison (10.22) serta sprinter Afrika Selatan Thembo Monareng (10,23). Sementara atlet Inggris, Dominic Ashwell mencatat waktu 10.25 detik.

Semakin menariknya pembicangan ditambah munculnya insiden bendera Merah Putih yang menjadi kebanggaan setiap pemenang olahraga terutama atletik untuk dibawa keliling lapangan sempat tiada, karena diperhitungkan Zohri bukan menjadi yang pertama.

Sepertinya saat itu Zohri Sempat kebingungan dan terasa terlihat sendiri tanpa ada pelukan hangat sukacita dari rekan dan oficialnya bahkan bendera negaranya juga tiada terlihat diberikan sebelumnya. Sementara peserta Amerika yang menempati urutan kedua dan ketiga dengan bangga telah menyelimuti diri mereka dengan benderanya.

Setelah celingak celinguk sebentar Zohri sang pemuda sederhana tersebut segera melakukan sujud syukur dilapangan yang dimenanginnya, dan kemudian disusul pemberian bendera kepadanya.

Lalu Muhammad Zohri memang berasal dari kalangan keluarga miskin di sebuah rumah sederhana bahkan jauh dibilang dari kata sederhana di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, NTB, namun prestasinya tidak semiskin dan sesederhana kehidupannya. Begitu juga dengan ibadahnya dimana disebutkan dia selalu rajin melakukan sholat bahkan saat di negara orang.

Saat ini dunia olahraga sepertinya lagi demam banyak surprises yang terjadi. Tengoklah kejuaraan bola dunia (FIFA) saat ini. Tim negara-negara favorit hampir semuanya terjungkal di awal-awal babak penyisihan. Dari Spanyol, ke Argentina, ke Portugal, hingga ke Brazil. Semuanya tersingkir bahkan oleh tim negara yang tidak difavoritkan. Bahkan kejutan besar terjadi. Tim Kroasia yang tidak terlalu difavoritkan itu mampu membabat tim-tim nasional kuat, termasuk mengalahkan Inggris di babak semi final dengan skor 2-1 itu.

Sebenarnya kalau kita mau membuka mata ada banyak prestasi dunia yang diukir oleh anak bangsa namun karena kehebohan akan politik mulai dari pilkada hingga pilpres ditambah lagi demam hastagGanti Presiden mewarnai Indonesia belum lagi kehebohan rebutan jabatan hingga melonjaknya harga barang. Semua bedebat merasa benar lupa ada yang harus diperhatikan yang telah mengharumkan nama bangsa, mereka berjuang untuk nama Indonesia dan mereka inilah seharusnya yang pantas disebut pahlawan bangsa masa kini dan perlu perhatian.

Dari kejuaraan matematika dunia di Amerika dan Eropa putra-putri bangsa besar ini seringkali memenangkan kompetisi itu. Kejuaraan MTQ dan hafal Al-Quran bahkan mengalahkan peserta dari negara-negara Arab sendiri. Hingga kepada kejuaraan pidato atau debat dalam bahasa Arab di negara Arab. Putra-putri Indonesia tidak kurang sedikit pun dari bangsa lain, tetapi sepertinya luput dari pemberitaan dan bahkan tidak viral di media sosial.

Harapan kedepan sebagai pelajaran berharga dengan ketidaksiapan pendamping saat Lalu Muhammad Zohri juara menjadi contoh agar berbagai pihak terutama pemerintah untuk lebih fokus mengutamakan calon-calon pahlawan yang akan berlaga sebelumnya dengan tidak mengesampingkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia tentunya.

Jabatan itu amanah dan akan dipertanggungjawabkan nantinya dihadapan sang pencipta. Ambisi jabatan bakal menjerumuskan diri dan keluarga.

Selamat buat Lalu Muhammad Zohri yang telah membuka mata rakyat Indonesia bahwa anak-anak bangsa Indonesia bisa berprestasi di mata dunia, walaupun kehidupannya jauh dari prestasi yang diraihnya. Dan nantinya akan muncul Lalu Muhammad Zohri lainnya sehingga para pencari bakat tidak melihat susah hidupnya namun melihat benar-benar kehebatan yang ada pada diri mereka.

Pencari bakat dan pelatih diharapkan hanya memikirkan bagaimana mereka bisa berhasil melatih dan mengasah bakat yang terpendam dan telah terlihat bukan memikirkan uang nantinya jika mereka akan naik menuju prestasi lebih tinggi lagi, biarlah itu menjadi urusan pemerintah dan donatur-donatur lainnya.

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here