Duka Di Negara Paling Damai

Posted by on Mar 18, 2019 | Leave a Comment

Kejadian penembakan secara brutal dan disiarkan secara langsung melalui akun facebook didalam mesjid pada saat umat muslim akan melaksanakan sholat Jumat di negara Selandia Baru adalah perbuatan yang dikecam sangat biadab.

Masjid Al-Noor dan masjid Linwood Islamic Center adalah saksi sejarah atas tragedi mengerikan di sebuah negara yang punya gelar sebagai negara terdamai kedua setelah Islandia, bahkan sebagai lima teratas negara dengan tingkat keamanan tertinggi setelah Islandia, Norwegia, Denmark, dan Singapura.

Sebagaimana diketahui, sebuah aksi teror menyerang dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Pelaku yang diketahui bernama Brendon Tarrant ini menembaki warga yang tengah berada di masjid.

Motif di balik aksi ini berkisar tentang teori konspirasi populer tentang bagaimana orang kulit putih Eropa sengaja digantikan oleh imigran non-kulit putih sebagaimana disebutkan dalam manifesto berjudul “The Great Replacement” yang dirilis sebelum aksi dilancarkan.

Mengutip AFP, manifesto itu mengambil inspirasi dari para ekstremis sayap kanan lainnya. Termasuk di antaranya pembunuhan rasial di Norwegia yang merenggut 77 nyawa pada 2011 lalu yang termotivasi oleh kebencian pelaku terhadap multikulturalisme.

Tayangan langsung di Facebook, yang diperkirakan diambil menggunakan kamera yang diletakkan di kepala, dimulai pukul 01.40 waktu setempat.

Pelaku memainkan lagu sembari menyetir ke arah masjid, termasuk mars anti-Muslim Serbia yang disebut “Remove Kebab”.

Ketika ia tiba di distrik Hagley Park di kota Christchurch, penyerang memarkir mobil dan kemudian membuka bagasi mobil dan terlihat beberapa senjata, amunisi, dan juga wadah bahan bakar terlihat ditayangan tersebut.

Mengambil dua senjata, yang dua-duanya telah dibubuhi nama dan slogan, bagaikan seperti sebuah permainan game perang yang terlihat hanya ujung senjata laras panjangnya dan daerah sekitar, ia berjalan ke pintu masuk masjid dan kemudian melepaskan tembakan ke umat muslim yang sedang beribadah.

Terekam pula beberapa orang mengerang di lantai masjid. Sejumlah orang lainnya terlihat terkapar tak berdaya.

Tayangan livestream itu berakhir 20 menit kemudian. Tersangka kemudian ditangkap pukul 03.00 waktu setempat.

Atas kejadian tersebut Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, bersumpah untuk mengetatkan dan menguatkan undang-undang senjata di negara tersebut.

Mengutip AFP, Jacinda Ardern mengatakan bahwa Brenton Tarrant, pelaku bersenjata berusia 28 tahun dari Australia ini memperoleh lisensi senjata kategori A pada November 2017 lalu. Sebulan setelahnya dia membeli lima senjata secara legal (sah) dari sebuah gudang senjata yang digunakan dalam serangan Jumat (15/3) di Christchurch.

Padahal Selandia Baru telah memperketat undang-undang senjata untuk membatasi akses ke senapan semi-otomatis pada 1992 lalu. Ini dilakukan dua tahun setelah seorang pria yang memiliki masalah kesehatan jiwa menembak mati 13 orang di kota Aramoana.

Hanya saja, undang-undang senjata api Selandia Baru dianggap lebih lemah dibanding di Australia.

Siapa pun yang berusia di atas 16 tahun bisa mengajukan izin kepemilikan senjata api di Selandia Baru. Izin ini berlaku selama 10 tahun setelah mereka menyelesaikan ‘ujian’ keselamatan dan pemeriksaan latar belakang oleh polisi.

Berdasarkan pernyataan polisi Selandia Baru tahun lalu, undang-undang senjata menyebutkan bahwa kebanyakan senjata tak butuh registrasi. Polisi pun tak tahu berapa banyak senjata api yang dimiliki secara legal dan ilegal di negara itu dan diperhitungkan pada 2014 lalu, polisi memperkirakan ada 1,2 juta senjata api legal dalam kepemilikan sipil. Jumlah ini setara dengan 1 dari 4 orang punya senjata api.

Semoga kejadian yang sangat mengerikan ini tidak terjadi lagi dibelahan dunia manapun dan pemberantasan teroris benar-benar ditegakkan, untuk kenyamanan bersama.

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here