Gawat, Pemilih Siluman Gentayangan

Posted by on Apr 14, 2014 | Leave a Comment

hasil-pemiluSiluman dalam berbagai cerita rakyat adalah makhluk halus yang tinggal dalam komunitas dan menempati suatu tempat. Mereka melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari layaknya manusia biasa. Mereka juga mengenal peradaban.

Siluman dapat berasal dari manusia biasa yang kemudian meninggalkan alam kasar atau setelah orang meninggal ruhnya masuk dalam masyarakat itu, atau memang sudah merupakan makhluk halus sejak awalnya. Pertemuan antara manusia dengan siluman seringkali menjadi bagian dari cerita-cerita misteri yang digemari.

Pada Pemilu Legislatif baru lalu, banyak manusia (terutama anak remaja-red) yang menjelma menjadi ‘siluman’. Mereka tidak terdaftar pada DPT (daftar pemilih tetap), tapi bisa ikut mencoblos. Kok bisa?

Ya namanya juga manusia yang menjelma menjadi ‘siluman’. Yang terjadi pada Pileg lalu, kemungkinan besar bakal terulang pada Pemilu Presiden Juni 2014 mendatang. Siap-siap lah untuk menangkal ‘siluman’ yang muncul seketika.

Santer tersiar banyak pemilih siluman yang melakukan aksinya saat Pemilu Legislatif, 9 April 2-14, barusan. Kenapa mereka dengan mudah bisa ikut mencoblos?

Kabarnya, anak remaja itu didalangi oleh salah seorang calon legislatif (caleg). Caleg itulah yang kabarnya berperan membiayai semua usaha haram yang dilakukan tersebut.

Ketua Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Muhammad membenarkan peran para pemilih siluman itu. Dikatakan, berdasarkan pantauan dan laporan yang diterima Bawaslu, banyak pemilih siluman pada hari pemungutan suara, Rabu (9/4) lalu.

“Pemilih siluman tersebut adalah mahasiswa dan mahasiswi baru yang terdaftar pada sebuah universitas di Makassar. Dengan kepala yang botak pemilih siluman ini mendatangi TPS, dengan spontan menimbulkan kecurigaan Panwaslu,” kata Muhammad, Kamis.

Dari hasil pemeriksaan ternyata mereka menggunakan hak suara orang lain. Tindakan tersebut menurut Muhammad merupakan pelanggaran pidana dan sangat serius.

Hasil pemeriksaan Bawaslu, pemilih siluman itu menuruti perintah dari senior yang menjemput mereka. “Mereka korban politik partai dan politik kesenioritasan,” ujarnya.

Selain itu, Bawaslu jua menemukan di TPS-TPS di Makassar. Seperti di TPS 03 Kelurahan Maribar ada keterlambatan C1 DPR yang belum sampai di TPS.  Kemudian, di TPS 67 Lapas Makassar ditemukan jumlah isi surat suara yang tidak sesuai dengan yang tertulis pada amplop surat suara.

Menurut dia, kekurangan-kekurangan pada hari pemungutan suara tersebut akan direkapitulasi Bawaslu. Selanjutnya, akan disampaikan kepada KPU jika menyangkut pelanggaran administrasi.

Sementara pelanggaran menyangkut pidana akan diteruskan kepada kepolisian melalui Sentra Gakkumdu (Penegakan Hukum Terpadu).

Sementara secara lebih spesifik, Panwaslu Kota Makassar dan polisi menangkap puluhan pemilih “siluman” yang kebanyakan pelajar SMA, mahasiswa dan buruh.

“Mereka yang diamankan itu beragam, ada anak SMA, mahasiswa, tukang ojek maupun buruh. Awalnya yang ditangkap dua orang kemudian berkembang lagi hingga lebih dari 30 orang,” ujar Ketua Panwaslu Makassar Ilyas Arief di Makassar, Rabu (9/4).

Ia mengatakan, pihaknya masih memeriksa para pemilih siluman itu dan menyerahkannya kepada sentra penegakan hukum terpadu (Gakkumdu) untuk melihat jenis pelanggarannya.

“Dengan mencoblos surat suara yang bukan seharusnya mereka, itu adalah pelanggaran pemilu dan nanti akan dilihat bagaimana kelanjutannya karena itu sudah masuk ranah pelanggaran pemilu,” katanya.

Para pemilih siluman ini ditangkap dari TPS-TPS di Kecamatan Panakukang, Manggala, Tamalate dan Tamalanrea. Awalnya hanya menangkap dua di Kecamatan Panakkukang kemudian berkembang menjadi lebih dari 30 orang.

Menurut dia, modus mereka hampir seragam yakni menggunakan undangan memilih (C6) orang lain untuk mencoblos dengan iming-iming imbalan tertentu
Selain itu, tertangkapnya pemilih siluman ini rata-rata mahasiswa baru dan pelajar SMU atas kecermatan petugas Panitia Pemungutan Suara serta KPPS saat ingin mencoblos.

“Mereka dicurigai kemudian diserahkan ke polisi dan petugas Panwas di sejumlah TPS untuk selanjutnya dibawa ke sini untuk dimintai keterangan,” kata dia.

Mereka terancam hukuman penjara 6 bulan dan denda Rp18 juta. Dua pelaku diketahui berstatus mahasiswa asal Flores, Nusa Tenggara Timur, dan mengakui disuruh seorang perempuan bernama Daeng Bau untuk mencoblos caleg tertentu di TPS Bontoduri.

Sementara itu seorang pelaku yang masih bersatus pelajar SMU kelas II mengaku dijanjikan uang oleh salah satu tim sukses caleg tertentu. “Saya dijanjikan uang Rp50 ribu untuk mencoblos caleg Kota Makassar, nanti setelah dicoblos baru saya dikasih,” tuturnya.

Tiga Cerita Pemilih Siluman yang Tertangkap Tangan

Namanya saja siluman. Jadi bergerak diam-diam. Sebisa mungkin tidak diketahui. Seperti itulah ‘sifat’ pemilih siluman di pileg 9 April 2014. Untunglah, keberadaan mereka terbongkar.

Pemilih siluman merujuk pada orang-orang yang seharusnya tidak memiliki hak suara, tapi mencoblos atas suruhan orang lain. Mereka digerakkan untuk menambah pundi-pundi suara partai, caleg, atau DPD. Kompensasinya mereka mendapatkan uang atau yang lain.

Dalam pileg pekan lalu, aksi pemilih siluman di berbagai tempat terbongkar. Cara mereka menembus TPS berbeda-beda. Berikut ceritanya.

1. Wanita-wanita Muda

Tak seperti siluman, penampilan wanita-wanita ini cukup modis. Tapi ternyata mereka digerakkan oleh seorang anggota tim sukses caleg di Batam, Kepulauan Riau. Akhirnya wanita-wanita yang didatangkan dari kawasan industri Muka Kuning Batam ini berurusan dengan Panwaslu dan polisi.

Para wanita muda ini mencoblos di TPS 19 Kampung Belimbing Kelurahan Sadai Kecamatan Bengkong. Selain KTP, mereka membawa surat undangan khusus. Aksi mereka terbongkar setelah petugas KPPS curiga karena identitas diri mereka jauh berbeda dengan data pemilih.

Salah satu pemilih siluman, Lia (21) mengaku dijanjikan uang Rp200 ribu usai mencoblos dua caleg DPRD Batam dan DPRD Provinsi Kepulauan Riau dari 2 partai berbeda.

Selain para wanita, Panwaslu juga menangkap seorang pria berinisial DH yang merupakan tim sukses caleg DPRD Kota Batam. Mereka diamankan di Mapolsek Bengkong.

2. Mencoblos Pakai Surat Undangan Orang Lain

Sebanyak 20 orang diamankan dari sejumlah TPS di Makassar, Sulawesi Selatan. Saat mencoblos, mereka menggunakan Surat Pemberitahuan Pemungutan Suara pada Pemilih atau lembaran C-6 milik orang lain.

Salah satunya adalah Barliansyah, siswa SMU kelas 2. Ia menggunakan undangan pemilih milik Ahmad Fajri dan mencoblos di TPS 24 Jalan Angksa Kelurahan Panaikang, Kecamatan Panakukang.

“Dijanjikan uang oleh timses caleg,” kata Barliansyah tak menyebut nominal yang bakal diterimanya.

Dua orang lainnya, Najamuddin dan Irfan, mengaku disuruh oleh seorang perempuan bernama Daeng Bau untuk mencoblos di TPS Jalan Bontoduri. Kedua pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur, ini tidak menyebutkan apa yang didapatkan jika mencoblos sesuai arahan Daeng Bau.

3. Anak-anak

Dua anak ini sadar mereka belum waktunya mencoblos. Tapi karena diiming-imingi uang ratusan ribu, keduanya datang ke TPS lalu mencoblos nama calon DPD dan caleg. Aksinya nyaris sempurna, tapi akhirnya tetap terbongkar.

Kedua anak ini berasal dari Tarongko, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Inisialnya Cp (16) dan Rnt (16). Mereka mencoblos di TPS V Tandung Kecamatan Makale. Bagaimana mereka bisa memilih? Dari penelusuran Panwaslu, keduanya menggunakan formulir C6 (surat undangan) milik orang lain. Formulir itu didapatkan dari caleg berinisial Krs.

“Kami diarahkan untuk memilih salah satu calon anggota DPD dan caleg itu (Krs). Karena saya membawa motor, maka diberi Rp150.000, sedangkan teman yang saya bonceng diberi Rp100.000,” kata Cp saat diperiksa Panwaslu.

Berdasarkan UU Pemilu No 8 Tahun 2012, orang-orang yang terlibat dalam aksi di atas diancam dengan hukuman penjara 6 bulan dan denda Rp 8 juta. Termasuk caleg yang meminta dicoblos mereka? (TIM)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here