Hukuman Ridwan Mukti dan Istri Diperberat

Posted by on Apr 02, 2018 | Leave a Comment

Bengkulu – KoranAntiKorupsi Hukuman Gubernur Bengkulu (nonaktif) Ridwan Mukti dan istrinya Lily Martiani Maddari bertambah dari semula masing-masing delapan tahun penjara menjadi sembilan tahun, menyusul bandingnya ditolak majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bengkulu.

Selain itu, Ridwan Mukti dan istrinya didenda sebesar Rp 400 juta subsider dua bulan kurungan penjara dan dicabut hak politiknya selama lima tahun dari sebelumnya hanya selama dua tahun. Putusan banding tersebut, dibacakan majelis hakim PT Bengkulu, Adi Dahrowi, di Bengkulu, Rabu (28/3).

Dengan keputusan tersebut, maka seluruh tuntutan yang diajukan terdakwa Ridwan Mukti, dan istrinya Lily Martiani Maddari dinyatakan ditolak oleh Pengadilan Tinggi Bengkulu. Dalam pembacaan putusan tersebut, kedua terdakwa tidak hadir.

Ridwan Mukti dan istrinya sebelumnya divonis majelis hakim PN Tipikor Bengkulu, masing-masing selama delapan tahun penjara dan denda sebesar Rp 400 juta subsider dua bulan kurungan, dan dicabut hak politik selama dua tahun setelah menjalani hukuman pokok, karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi menerima fee proyek jalan dari kontraktor sebesar Rp 1 miliar

Hukuman ini lebih ringan dua tahun dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberatan Korupsi (KPK) masing-masing selama 10 tahun penjara dan denda Rp 400 juta subsider empat bulan kurungan, serta dicabut hak politik selama lima tahun setelah menjalani masa hukuman pokok.

Ridwan Mukti dan istrinya, Lily Martiani Maddari tidak menerima putusan tersebut, sehingga mengajukan banding ke PT Bengkulu melalui pengacaranya. Namun, upaya banding yang dilakukan mantan bupati Musi Rawas (Mura) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan istrinya kandas karena ditolak oleh majelis hakim PT Bengkulu.

Seperti diketahui pada Juni 2016, Ridwan Mukti dan istrinya Lily Martiani Maddari terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK, karena menerima suap fee proyek dari salah satu kontraktor jalan sebesar Rp 1 miliar. Saat OTT dilakukan di rumah pribadinya, Ridwan Mukti tidak berada di tempat, karena sedang memimpin rapat di kantor gubernur. Istrinya Lily Martiani Maddari, dan dua orang kontraktor, yakni Rico Dian Sari dan Jhoni Wijaya yang terkena OTT.

Mendapat informasi istrinya terkena OTT KPK di rumah pribadinya, Ridwan Mukti langsung mendatangi Mapolda Bengkulu. Namun akhirnya, Ridwan Mukti juga ikut digelandang penyidik KPK ke Jakarta, dan selanjutnya ditetapkan sebagai tersanngka bersama istrinya Lily Martiani Maddari, Rico Dian Sari, dan Jhoni Wijaya.

Selama proses persidangan di PN Tipikor Bengkulu, sebanyak 20 saksi diperiksa dan dihadirkan di persidangan. Namun, Gubernur Ridwan Mukti tidak mengaku menerima suap dari Jhoni Wijaya melalui perantaraan Rico Dian Sari sebagaimana yang didakwakan oleh JPU KPK. Meski tidak mengaku, Ridwan Mukti bersama istrinya tetap divonis bersalah oleh majelis hakim PN Bengkulu.(SP/IN)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here