Instalasi Pengolahan Air Limbah PT JJP Asal Jadi, Tanggul Jebol Ribuan Ikan Mati

Posted by on Sep 17, 2012 | Leave a Comment

KUBU – Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT. Jatim Jaya Perkasa (JJP) Sei. Majo Kecamatan Kubu Babusalam, Rokan Hilir dibuat asal jadi. Hanya terdiri dari dinding tanah dan lantai tanah.

Bahkan, IPAL PKS PT. JJP tidak sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep.51/MENLH/10/1995 yang merupakan standar baku. Mestinya, berdasarkan keputusan ini, semua kolam IPAL dibuat berkonstrtuksi semen beton, dengan kapasitas 64.800 M3. Dengan fisiografi lahan yang datar, dan tidak mungkin menggunakan memanfaatkan air limbah cair PKS.

Investigasi wartawan KPK Pos Salamuddin Purba dan Tim LSM Gerakan Penyelamatan Kekayaan Daerah Riau (GPKDR) bersama salah seorang warga Desa Sei Majo Wan Nurea meninjau langsung ke lokasi kolam limbah PT.JJP Rabu pekan lalu. Dalam peninjauan itu ditemukan ada tujuh kolam IPAL PT.JJP diperkirakan  berukuran 15 meter X 50 meter, terbuat dari dinding tanah.

Jarak antara kolam yang satu dengan yang lainnya hanya dibatasi tanggul tanah, dengan ketebalan 2 meter. Sementara dua kolam diantaranya tidak berfungsi.

Letak kolam limbah berlokasi tidak jauh dari PKS PT. JJP, dan bersebelahan dengan kanal Sei. Majo dengan kedalaman 3 meter kali lebar 3 meter.

Sedang jarak kanal dengan kolam penampungan limbah hanya dibatasi dengan tanggul ketebalan empat meter, letak kolam limbah di atas permukaan aliran air kanal. Sedangkan air kanal tersebut dialirkan ke Sei.Pedamaran hingga ke Sei. Rokan.

Keterangan yang dihimpun KPK Pos menyebutkan, tanggul IPAL PT. JJP kerap terjadi kebobolan yang mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan di wilayah Desa Sei.Majo, karena tanggul kolam limbah berada di atas permukaan air kanal.

Selain itu kondisi tanah longgar, sehingga dengan mudah limbah tersebut meresap ke kanal tersebut, seperti yang terjadi belum lama ini, tanggul kolam limbah PT. JJP jebol mengakibatkan ribuan ikan mati di kanal tersebut.

Jika dilihat dari letak kolam limbah PKS PT.JJP, diduga pihak PT.JJP sengaja membangun IPAL berdampingan dengan kanal Desa Sei.Majo. Posisi kolam limbah lebih tinggi dari permukaan air kanal, tujuannya disinyalir untuk mempermudah membuang limbah diduga B3 (Bahan Berbahaya Beracun) ke kanal tersebut.

Selain itu, dampak dari pengolahan tandan buah sawit (TBS)  menjadi CPO (crude palm oil) dan PKO dipengolahan  PKS PT. JJP menghasilkan produk sampingan yang tidak diinginkan, seperti ceceran oli dari genset penggerak listrik, dan aktivitas pencucian TBS tersebut diperkirakan ceceran oli dan lumpur cair PKS tersebut dapat mencemari kualitas Sungai Pedamaran yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Yang jelas manajemen PT. JJP belum melaksanakan secara benar Kerangka Acuan Analisa Dampak Lingkungan (KA-AMDAL) dan Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) sebagaimana yang diatur dalam UU Lingkungan Hidup.

“Tudingan berbagai pihak yang dialamatkan kepada Bapedalda Rokan Hilir bahwa, Bapedalda Rohil tidak bernyali, seperti yang diberitakan koran ini, pada edisi pekan lalu itu, sah-sah saja, dan sebagai peringatan keras masyarakat kepada Instansi yang punya kewenangan untuk melakukan tindakan terhadap PT. JJP karena IPAL yang dibangun tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mestinya pihak Bapedalda Rohil tidak memberikan izin terhadap pengoperasian PKS PT. JJP sebelum persyaratan yang merupakan peraturan baku dipenuhi perusahaan.

Pengoperasian PKS PT. JJP dan pembukaan perkebunan Kelapa Sawit PT. JJP di Sei. Majo sudah berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 1998 lalu. Ada apa dengan pihak Bapedalda Rohil membiarkan pengoperasian PKS PT. JJP tanpa mengindahkan Undang-undang tentang Lingkungan Hidup.

Keluhan masyarakat terhadap jebolnya tanggul kolam limbah PT. JJP yang dilaporkan masyarakat juga tidak digubris.

Masalah jebolnya Tanggul PKS PT.JJP disampaikan Wan Nurea dan Syafrizal (40) warga RT/RW 09/05 Desa Sei.Majo Syafrizal yang ditemui KPK Pos, Rabu pekan lalu, dikediamannya mengatakan satu-satunya warga  yang bertetangga dengan PKS PT. JJP adalah saya (Syafrizal -ed) sekeluarga. “Saya tinggal di sini sejak 1997, sebelum berdirinya PKS PT. JJP, kami sudah tinggal di sini,” tegas Syafrizal.

Syafrizal membenarkan bobolnya tanggul IPAL PT. JJP  mengakibatkan berbagai jenis ikan pada kanal Sei.Majo bermatian. Kejadian bobolnya tanggul tersebut  telah dilaporkan Syafrizal kepada RT setempat untuk ditindak lanjuti kepada Perusahaan PT. JJP dan Bapedalda Rokan Hilir.

Namun hingga saat ini belum ada realisasinya. Pengaduan tersebut disampaikan satu bulan yang lalu.

Selain itu, sambung Syafrizal, selama PKS PT. JJP  beroperasi di Desa Sei.Majo belum ada kontribusi yang diberikan PT.JJP  baik listrik maupun air bersih. “Memang dikasi air bersih tapi disuruh jemput sendiri ke PKS, sementara listrtik yang dimohonkan juga belum dikabulkan PT.JJP,” terang Syafrizal.

Informasi yang dirangkum KPK Pos di Sei. Majo  menyebutkan pembangunan PKS PT. JJP Desa Sei. Majo diduga berdasarkan data yang penuh dengan rekayasa, terhadap pengumpulan data primer, dan pengukuran langsung di lapangan melalui pengamatan dan wawancara dengan menggunakan daftar isian (koesioner) berupa pendapat, dan persepsi masyarakat terhadap lingkungan tidak dilakukan sebagaimana mestinya. (PUR)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here