Korban Penyerobotan Lahan Mengadu Ke DPRD Rohil

Posted by on Apr 22, 2013 | Leave a Comment

PT Tunggal Mitra Plantation (TMP) di Kabupaten Rokan Hilir.

PT Tunggal Mitra Plantation (TMP) di Kabupaten Rokan Hilir.

TANAH PUTIH – Sejumlah warga Bagan Batu, Kecamatan Bagan Sinembah, Rokan Hilir yang mewakili pemilik lahan seluas 2.415 hektar terletak di Desa Pematang Damar yang dirampas haknya oleh PT Tunggal Mitra Plantations (TMP) Manggala I datangi DPRD Rohil.

Kedatangan warga ke Komisi I DPRD Rohil diterima anggota DPRD Komisi I dari Fraksi Golkar Bachtiar SH. Warga perwakilan pemilik lahan yaitu, Rambing, Rosip, Fazaruddin masing – masing  warga Desa Bagan Batu, Kecamatan Bagan Sinembah, Rokan Hilir.

Menurut Fazaruddin kunjungan mereka (perwakilan warga pemilik lahan-red) ke Komisi I menyampaikan aspirasi mereka terkait lahan masyarakat yang dirampas PT TMP.

“Aspirasi yang disampaikan masih secara lisan,” ujar Fazaruddin melalui hubungan seluler pada saat mendatangi  DPRD Rohil, Kamis pekan lalu.

Anggota Komisi I DPRD Rohil, Bachtiar SH saat dihubungi melalui hubungan seluler, Kamis pekan lalu, membenarkan pihaknya didatangi sejumlah warga Bagan Batu. Kedatangan mereka ke komisi I DPRD Rohil mengadukan permasalahan lahan milik warga yang sekarang telah dikuasai PT TMP.

Kedatangan warga dalam rangka silahturahmi dan menyampaikan keluhan mereka.

Bachtiar meminta kepada warga, agar keluhan mereka terkait masalah lahan yang dikuasai PT TMP tersebut disampaikan secara tertulis, sehingga pengaduan tersebut nantinya  akan dibahas di komisi I, untuk kemudian dilakukan hearing dengan pihak PT TMP, dan warga.

“Waktu hearing sudah ditentukan pada hari Senin tanggal belum bisa dipastikan yang menentukan DPRD karena pada hari Senin itu, para anggota dewan boleh dibilang hadir semua,” ujarnya.

Secara terpisah ucapan senada juga disampaikan Buyung warga Desa Batang Ngibul. Saat ditemui KPK Pos di rumahnya Buyung mengakui bahwa lahan kebun karet miliknya juga jadi sasaran penyerobotan PT TMP. “Kami sudah hampir putus asa, karena sudah belasan tahun permasalahan sengketa lahan dengan PT TMP, tak kunjung selesai,” tegas Buyung.

Akibat penyerobotan lahan yang dilakukan PT TMP, Buyung sekeluarga kehilangan mata pencaharian. Tidak hanya kebun milik warga yang diserobot.

Sungai Bangko yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat yang tinggal di pinggiran Sungai Bangko untuk keperluan sehari-hari, dan mencari nafkah dengan menangkap ikan di sungai tersebut pupus sudah, akibat pencemaran limbah PT TMP.

Sebelum PT TMP berdiri, ada seribu jenis ikan yang hidup di Sungai Bangko. Namun setelah kehadiran PT TMP di daerah ini, menghancurkan kehidupan masyarakat di sana. “Bagi masyarakat Bangko kehadiran PT. TMP tidak memiliki  kontribusi bagi warga Bangko,” ujar Buyung.

Oleh karenanya, warga korban penyerobotan lahan yang dilakukan PT TMP melalui LSM Perlahan selaku penerima kuasa pemilik lahan menyurati Komnas HAM RI agar melakukan invetigasi ke lokasi PT TMP dan ke Sungai Bangko.
Asisten Kepala (Askep) Perkebunan PT Tunggal Mitra Plantations Manggala I Reno saat ditemui di kantor PT TMP, Kamis pekan lalu, mengaku tidak bisa berkomentar.

“Saya baru 6 bulan bertugas sebagai Askep. Kalau mau klarifikasi tanyakan langsung ke pimpinan,” ucap Reno.

Dia menyarankan, berhubung GM (general manager) PT TMP Manggala I tidak ditempat, beliau ke Pekanbaru. “Sebaiknya masalah pemberitaan ini, dikonfirmasikan ke Kantor PT TMP Jalan Riau Ujung No.7A Pekanbaru,” ujar Reno.

Sementara itu Ketua Umum LSM Perlahan Rohil Khairul saat dihubungi KPK Pos belum lama ini, membenarkan bahwa pihaknya telah menyurati Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Pihaknya membuat pengaduan ke Komnas HAM bukan tidak percaya terhadap Pemkab Rokan Hilir. “Namun karena permasalahan ini, terkesan adanya pembiaran mengakibatkan  sengketa lahan antara masyarakat dengan PT TMP terkatung-katung,” ujarnya. (PUR)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here