Murid SD ‘Memar-Memar’ Dipukuli Ibu Guru

Posted by on Oct 07, 2013 | Leave a Comment

Langkat -Kpkpos  Setelah sehari sebelumnya, Bunga (10) bukan nama sebenarnya membuat laporan pengaduan ke Mapolres Langkat, kini (Selasa pekan lalu-red) giliran dua murid lainnya yang datang ke Unit PPA Polres Langkat untuk memberikan keterangan terkait kasus kekerasan yang dialami mereka di sekolah.

Kedua pelajar yang masih duduk di bangku kelas III SD 050740 Kwala Langkat,  masing-masing berinisial MDI (10) dan Say (10). Keduanya menetap di Desa Kwala Langkat, Kec.Tanjung Pura, Langkat. Sedangkan, MM (22) sang ibu guru yang tersandung kasus pemukulan terhadap 15 anak didiknya hingga kini masih belum terlihat datang ke Polres Langkat untuk dimintai keterangan.

“Kalau anak saya ini dipukul sampai 7 kali oleh guru tersebut dan bukan hanya kakinya saja yang dipukul, tapi juga wajahnya juga ikut dipukul pakai penggaris kayu, ini masih ada bekasnya, ” ucap Sahara (45) ibu kandung MDI salah seorang siswa yang pernah dihajar oleh gurunya tersebut.

Selama ini, sambung Sahara, dirinya sudah berusaha menahan diri dan mencoba bersabar. Tapi karena tidak ada itikad baik dari pihak sekolah untuk menyelesaikan persoalan ini maka dirinya terpaksa harus memilih membawa persoalan ini ke pihak yang berwajib.

“Orang tua mana yang terima kalau anaknya dipukuli seperti ini, makanya kami minta supaya guru itu segera dipecat dan kalau bisa Kepseknya juga di copot karena dia bukannya mengambil tindakan tapi malah sengaja membela-belain guru itu ” kata Sahara.

Pantauan  di Polres Langkat, meskipun didampingi orang tuanya, namun beberapa pelajar SD tersebut tampak masih sangat trauma saat dimintai keterangan oleh petugas penyidik Polres Langkat. Mereka seperti sangat ketakutan sekali akibat kejadian yang mereka alami. Bahkan demi kebaikan mereka, keluarga korban meminta rekan wartawan untuk tidak mengambil gambar mereka saat menjalani pemeriksaan di Mapolres Langkat.

Usai memberikan keterangan,  Zakiah (39) ibu kandung Bunga meminta kepada petugas kepolisian untuk serius mengusut tuntas kasus kekerasan tersebut.  Dikatakannya, kalau kemarin dirinya sudah didatangi oleh utusan dari Dinas Pendidikan Kab.Langkat yang meminta agar persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan.

“Tuntutan kami jelas, yang pertama supaya guru itu dipecat dan Kepala Sekolahnya juga ikut dicopot, karena antara guru itu sama Kepsek masih ada hubungan keluarga, makanya dia (Kepsek) mati-matian membela guru itu supaya jangan di pecat dan sebelum saya melaporkan masalah ini dia juga pernah menantang dan seperti menyepelekan kami karena orang susah pasti tidak berani lapor sama polisi ” ucap Zakiah.

Sementara itu, Ketua Lembaga Advokasi Perempuan dan Anak Sumatera (LAPAS), Togar Lubis SH saat dikonfirmasi membenarkan kalau pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap korban kekerasan yang dialami 15 pelajar SD tersebut. Dijelaskannya, Kamis 19 September 2013 lalu, ketika para orang tua murid datang ke kantor LAPAS di Stabat mereka melaporkan kasus penganiayaan ini.

“Saya telah berkoordinasi dengan Kadis P dan P Langkat. Permintaan para orang tua hanya 2, yaitu : 1. Guru honor tersebut mohon maaf dan 2 berhenti mengajar di sekolah tersebut karena sebelumnya penganiayaan terhadap murid sudah sering dilakukan oleh guru tersebut,” tegasnya.

Bahkan ada 2 orang murid yang kepalanya pernah saling dibenturkan. Sikap guru honor ini juga tidak menunjukkan sikap seorang guru, sebagai perempuan, kata warga, guru ini ini sering di lingkungan sekolah menghisap rokok.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Langkat H. Sujarno SSos saat ditemui wartawan di ruang kerjanya menjelaskan, pihaknya sudah mengambil langkah-langkah terbaik untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sebelum resmi dilaporkan ke pihak yang berwajib dirinya juga sudah melakukan pertemuan antara guru tersebut dan beberapa wali murid untuk mencari solusi jalan keluar yang terbaik.

“Guru tersebut masih tenaga honorer dan sudah kita mintai keterangannya, dia memang mengaku bersalah karena khilaf dan sudah meminta maaf kepada orang tua murid,” jelas Kadis.

Kadis juga meminta agar semua pihak yang terkait untuk saling bersabar dan tidak emosi sehingga dapat memperoleh jalan keluar yang terbaik. Mengingat disekolah itu memang sangat dibutuhkan tenaga guru karena jumlah guru disana sangat terbatas sekali.

“Yang jelas guru honor tersebut sudah kita panggil dan akan kita tindak sesuai peraturan yang berlaku, ” ucap Kadis Pendidikan. (JUL)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here