Pertama Kali, Gubernur Riau Rusli Zainal Diperiksa KPK

Posted by on Jun 03, 2013 | Leave a Comment

Jakarta – Kpkpos Untuk pertama kali, Gubernur Riau Rusli Zainal memenuhi
panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa sebagai tersangka dua kasus sekaligus, yakni tindak pidana korupsi sarana dan prasarana Pekan Olah Raga Nasional serta terkait alih fungsi hutan di
Pelelawan, Riau.

Dengan murah senyum dan tak punya beban, Rusli Zaenal datang ke Kantor KPK Jakarta, Jumat pekan lalu sekitar pukul 09.50 WIB.

“Belum tau dalam kasus apa dipinggil, nanti saya tanyakan ya,” jawab Rusli Zaeinal santai.

Sebelumnya, Rusli hanya diperiksa sebagai saksi untuk kedua kasus tersebut. Mengenai kemungkinan tentang penahanannya, Rusli enggan menjawab dan memilih untuk tersenyum saja.

Meski ditetapkan tersangka KPK belum menahan Gubernur Riau Rusli Zainal. KPK hanya melayangkan 2 surat pencegahan berpergian ke luar negeri terhadap Rusli Zainal ke Direktorat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM pada 16 dan 20 Mei 2013 lalu.

Pencegahan mulai berlaku hingga 6 bulan ke depan. Wakil Ketua KPK Bambang
Widjojanto beralasan lembaganya belum menahan Rusli Zainal karena harus menunggu hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) tentang kerugian negara akibat penyelewengan dana penyelenggaraan PON Riau.

Itu sama seperti kasus dugaan korupsi Hambalang, penahanan keempat tersangkanya juga menunggu hasil audit BPK.

“Bukan (terhambat). Sekarang masih kasus kehutanannya dan menunggu juga penghitungan kerugian negaranya (dari BPK),” kata Bambang melalui keterangan tertulis.

Karena itu, ia menambahkan, jika lembaganya sudah menerima hasil audit BPK, maka Rusli Zainal akan langsung ditahan. “Kerugian negaranya belum dihitung. Dia (Rusli Zainal) pasti ditahan,” tukas Bambang. Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan bahwa hingga saat ini masih belum ada informasi mengenai penahanan Rusli. “Belum ada informasi, sejauh ini informasi yang didapat RZ (Rusli Zainal) akan diperiksa sebagai tersangka,” kata Johan.

Rusli Zainal ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus korupsi kehutanan oleh KPK sejak 8 Februari 2013. Pada kasus ini, Rusli dikenakan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 tentang penyelenggara negara yang menyalahgunakan kewenangannya.

Kasus ini merupakan pengembangan dari kasus dugaan korupsi atas pengeluaran izin pengelolaan hutan di Kabupaten Pelalawan, Riau, dengan sejumlah pejabat setempat setelah divonis oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pekanbaru, Riau.

Mereka adalah Tengku Azmun Jaafar (eks Bupati Pelalawan), Arwin As (eks Bupati Siak), Asral Rahman (eks Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau 2002-2003), Syuhada Tasman (eks Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau 2003-2004) dan Burhanuddin Husin (eks kepala dinas kehutanan Provinsi Riau 2005-2006.

Sementara untuk kasus suap terkait pembahasan peraturan daerah penyelenggaraan PON, nama Rusli disebut dalam persidangan oleh terdakwa Lukman Abas dan Rahmat Syahputra.

Rusli diduga terlibat dalam kasus suap penyelenggaraan PON Riau 2012, dengan menerima suap sekitar Rp500 jura dan turut memberikan persetujuan dalam memberikan suap kepada sejumlah anggota DPRD Riau. Rusli diduga menerima suap untuk meloloskan pembahasan Perda itu.

Rusli juga diduga terlibat kasus pembahasan Perda nomor 5 tahun 2010 soal PON Riau, yang berkaitan dengan dua tersangka dari anggota DPRD sebelumnya, yakni terpidana Faisal Aswan dan M Dunir. Rusli diduga menyuap
sejumlah anggota DPRD Provinsi Riau, buat meloloskan pembahasan beleid itu.

Dalam kasus ini, KPK menahan 7 tersangka yang merupakan anggota DPRD Riau, 15 Januari 2013 lalu. Ketujuh orang itu merupakan anggota Panitia Khusus (Pansus) revisi Perda PON. Mereka adalah Adrian Ali (PAN), Abubakar Siddik (Golkar), Tengku Muhazza (Demokrat), Zulfan Heri (Golkar), Syarif Hidayat (PPP), dan Muh Rum Zen (PPP), dan Turoechan Asyari (PDIP).

Dalam pembahasan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2010 untuk Dana PON Riau itu diduga sengaja digelembungkan dan dikorupsi.(ENDY)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here