“Pilgubsu (Jangan) Layu”

Posted by on Nov 13, 2017 | Leave a Comment

Jelang pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara tahun 2018 seperti mati rasa dan layu, bila dibandingkan dengan perhelatan pilgubsu pada tahun 2013 silam. Dulu ada lima pasangan calon gubernur dan wakil gubernur secara serentak melakukan berbagai manuver politik dalam rangka memenangkan hati pemilih.

Saat ini dengan sisa waktu tiga bulan ke depan penetapan calon gubernur dan wakil gubernur, jangankan menuver politik, calon saja pun masih malu-malu kucing untuk menyatakan diri maju sebagai calon gubernur atau wakil gubernur.

Di tingkat masyarakat, pembicaraan tentang pilgubsu pun seakan bukan menjadi topik yang menarik dibicarakan. Apakah masyarakatnya sudah bosan dan apatis dengan suksesi kepala daerah, atau memang informasi tentang pilgubsu yang tidak sampai ke masyarakat. Bertolak dari kondisi itu, dapat dikatakan pilgubsu kali ini seakan “layu” tak berkembang.

Meskipun Pilgubsu tahun 2018 ini terasa layu, namun beberapa figur – “yang masih malu-malu kucing” – tetapterlihat melakukan beberapa aksi menabur simpatik. Meskipun aksi itu, masih bersifat alat sosialisasi melalui spanduk, baliho dan lain sebagainya.

Di antara figur yangdisebut akan maju, datang dari petahana Dr. H.T. Erry Nuradi, M.Si yang kini masih menjabat sebagai geburnur Sumatera Utara. Meskipun dibalut sosialiasi program pemerintah, sejumlah spanduk, baliho yang memuat gambar Erry Nuradi bertebar dihampir seluruh pelosok Sumatera Utara.

Erry Nuradi, sebelumnya pernah menjadi Wakil Gubernur Sumut dan Bupati Serdang Bedagai selama dua periode. Tentu dari sisi pengalaman, ia dinilai mahir bagaimana cara memenangkan hati pemilih, dan pengalaman seperti itu mungkin saja belum dimiliki calon rivalnya. Namun pengalaman di daerah, tidak berbandinglurus dengan pemilihan gubernur, karena selain pangsa pasarnya lebih luas, juga kepentingannya pasti lebih beragam.

Oleh karena itu, ramuan visi misi dan program kerja akan sangat menentukan, termasuk strategi yang dibangun dalam rangka menjaring masyarakat Sumatera Utara sebagai pemilik hak pilih. Isu-isu yang dibangun untuk mendudukkan posisi calon di mata masyarakat tentu bukan pekerjaan yang mudah. Salah-salah menggelindingkan isu, bisa melahirkan kontra produktif dari apa yang diharapkan.

Selain, Erry Nuradi, ada juga nama Letjen TNI Edy Rahmayadi. Figur ini dinilai rival yang dinilai memiliki kans mengelahkan calon petahana. Dari sisi leadershif, tentu sosok Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) ini, sudah tidak perlu diragukan.

Sebagai anggota TNI aktif, tentu Edy sudah teruji sebagai pemimpin. Ditambah lagi sekarang, Edy dipercaya sebagai nakhoda Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).  Edy juga pernah berkiprah di Sumatera Utara sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Bukit Barisan.

Nama lain yang sudah melakukan tebar pesona di tengah-tengah masyarakat adalah Bupati Kabupaten Simalungun JR Saragih. Berbagai alat peraga sosialisasi mulai dari baliho, spanduk sampai ke tenda becak, banyak terlihat gambar-gambar JR Saragih dengan berbagai bentuk.

Dari sisi pengalaman, JR Saragih juga sudah dua periode memimpin Kabupaten Simalungun sama dengan calon petahana. Namun dari sisi latar belakang JR Saragih, sama dengan Edy  Rahmayadi, yakni sama-sama pernah mengabdi di institusi TNI.

Selain ketiga nama tersebut, ada juga nama-nama yang disebut-sebut akan ikut bertarung pada pilgubsu 2018, meskipun aksi sosialisasi yang mereka lakukan masih terbatas. Misalkan nama Gus Irawan Pasaribu, Maruarar Sirait, Syahril Tumangger, Tifatul Sembiring, Syamsul Arifin, Ngogesa Sitepu, dll.

Tiga figur yang dinilai memiliki kans untuk maju pada pilgubsu 2018, namun ini masih dalam catatan prediksi. Artinya hingga 3 bulan jelang proses tahapan pendaftaran calon ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), belum ada satu pun yang sudah melakukan deklarasi pencalonannya. Ini menjadi pertanyaan bagai masyarakat, apakah para kandidat menunggu momentum yang tepat, atau karena belum mendapatkan rekomendasi dukungan dari partai politik, sebagai syarat untuk maju sebagai calon.

Kondisi yang sama juga dilakukan partai politik, mulai dari partai politik dengan perolehan tertinggi kursi di DPRD Sumut sampai partai politik yang hanya memiliki beberapa kursi. Hasil perolehan kursi pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 silam Golkar meraih 17 kursi, PDI Perjuangan 16 kursi, Demokrat 14 kursi, Gerindra 13 kursi, Hanura 10 kursi, PKS 9 kursi, PAN 6 kursi, Nasdem 5 kursi, PPP 4 kursi, PKB 3 kursi, PKPI 3 kursi dan PBB 0.

Bila didasarkan dari jumlah kursi di DPRD Sumut yakni 100 kursi, maka dimungkin pada Pilgubsu 2018 nanti, dapat melahirkan paling tidak 5 pasangan calon. Karena syarat bisa untuk mengusung kandidat calon Gubsu dan Wagubsu hanya dibutuhkan 20 kursi.

Namun lagi-lagi menjadi pertanyaan, apa yang menghalangi partai politik belum juga menyatakan secara terbuka mendeklarasikan siapa calon yang akan diusung pada Pilgubsu 2018. Fakta ini juga yang membenarkan penilaian, pilgubsu 2018 mendatang layu. Layu, bisa saja karena mesin-mesin politik belum bergerak. Bisa juga layu, karena, masyarakat tidak care, sehingga isu dan propaganda yang dilemparkan tidak mendapat respon positif.

Dalam politik, waktu 3 bulan memang yang sangat-sangat cukup untuk menentukan pilihan. Sebab politik bergerak secara dinamis, tidak lagi pada hitungan bulan, tapi juga hitungan jam bahkan menit. Kebiasaan menunjukkan calon pada last minit, mungkin masih menjadi pedoman baku dalam memulai strategi memangkan kandidat yang diusung.

Semoga dalam waktu tidak lama, pesta rakyat Sumatera Utara untuk menentukan pemimpinnya mulai bergema mulai dari Kepulauan Nias hingga ke Kabupaten Langkat. Pun respek masyarakat akan semakin baik, sehingga kontentasi pilgubsu tidak lagi layu, tapi tumbuh subur dan berdaun rindang, dengan harapan siapapun pemimpin sumut yang terpilih nantinya, mampu menciptakan masyarakat Sumut yang subur (yang sejahtera). (***)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here