Puisi Mengundang Ribut

Posted by on Apr 09, 2018 | Leave a Comment

Disaat masyarakat terutama mahasiswa yang heboh melakukan aksi demo kekecewaan atas kenaikan minyak pertalite, tiba-tiba muncul sebuah puisi yang viral dan menggemparkan menutupi berita tersebut.

Puisi itu datang dari anak proklamator RI, Sukmawati Soekarnoputri yang di dalamnya menyinggung tentang azan dan cadar. Meski disebut sebagai opini, puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ itu tetap menuai polemik dan mengundang keributan.

Padahal sudah disebutkan dan dimintakan bahwa penyebaran hoax dan ujaran kebencian dapat menimbulkan kegaduhan, kekacauan dan mengancam persatuan bangsa.

Puisi itu dibacakan Sukmawati dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Sukmawati diberi kesempatan maju ke panggung dan membacakan Puisi ‘Ibu Indonesia’ karyanya sendiri.

Namun sayangnya puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dilantunkannya seperti tidak nyambung dalam acara tersebut karena terkesan mendiskreditkan umat Islam dengan membanding-bandingkanĀ  sari konde dengan cadar, suara kidung Ibu Indonesia dengan alunan azan.

Tak pelak lagi puisi tersebut akhirnya memantik umat Islam protes dan marah, kenangan gerakan 212 pada Pilkada Jakarta kembali menggelora membuka luka yang masih berbekas atas kemarahan ucapan seorang ahok yang juga dianggap melecehkan Al Quran.

Sangat disayangkan, ketika seorang yang mengklaim dirinya sebagai tokoh budaya bangsa, bahkan titisan seorang tokoh nasionalis, melantunkan syair-syair yang falas dan provokatif.

Potespun bermunculan, puisi tersebutpun menjadi semakin viral, selain dari pelaporan ke Polisi juga datang dari media sosial (medsos) mulai dari balasan bebentuk puisi hingga komentar pedas dan makian sampai dengan permintaan untuk dibui.

Sukmawatipun akhirnya membuat klarifikasi, berlindung sebagai seorang budayawati dia mengucapkan bahwa itu bukanlah SARA. “Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja.”

Namun apapun yang disampaikan bukan membuat keributan semakin reda malah menjadi sebaliknya, ujung-ujungnya kata maafpun dilantunkan melalui konferensi pers. Walau kata maaf telah digulirkan namun tetap saja demo bermunculan seperti ‘tiada maaf bagimu’.

‘Mulutmu harimau mu, yang siap menerkammu’ demikian ucapan sebuah pepatah lama. Semoga ini menjadi sebuah pelajaran berharga untuk tidak menyinggung SARA apalagi memasuki masa tahun politik yang bisa memicu ketegangan.

Yang pasti kalau engkau tak tahu syariat Islam, seharusnya engkau belajar bukan berpuisi, harusnya bertanya bukan malah merangkai kata tanpa arti, kata Ustaz Feliix yang ia posting melalui akun Facebook-nya.

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here