Rupiah Kian Terhempas Tembus Rp14.080 per Dollar AS

Posted by on May 14, 2018 | Leave a Comment

Jakarta – KoranAntiKorupsi Rupiah terus berjalan melemah dan pada hari Rabu sore (09/05) lalu, kurs rupiah ditutup di level Rp14.080 per dolar AS, ini merupakan titik terendah dalam waktu lebih dari dua tahun belakangan dan akhirnya berimbas kepada cadangan devisa yang terus tergerus untuk intervensi rupiah.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat para ekonom mewanti-wanti karena jika depresiasi terus berlanjut maka harga kebutuhan pokok menjelang lebaran dan subsidi energi akan melesat.

Bank Indonesia pun didorong menempuh langkah jangka pendek menaikkan suku bunga acuannya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

Memang, pelemahan nilai tukar rupiah sudah diprediksi sebelumnya, dengan melihat ekspektasi pasar terhadap kenaikan bunga acuan bank sentral AS, Fed Fund Rate (FFR) sebanyak tiga hingga empat kali pada tahun ini.

Meski begitu, Direktur Eksekutif di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan bahwa meski terprediksi, pelemahan ini kurang diantisipasi.

“Cuma memang ada tambahan, kemarin kan ada persoalan geopolitik, sehingga harga minyak menjadi naik kembali, jauh dari asumsi APBN yang cumaUS$48 per barel, ternyata sekarang sudah US70 per barel,” ujar kata Enny kepada BBC Indonesia, Rabu (09/05).

“Ini memang belum banyak yang mengantisipasi,” tegasnya.

Untuk menyikapi depresiasi rupiah, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan pemerintah terus berkoordinasi menjaga agar kinerja perekonomian Indonesia tetap stabil.

“Kementerian Keuangan bersama dengan BI dan kementerian bidang ekonomi lainnya bekerjasama agar dinamika yang sekarang terjadi harus bisa dijaga untuk bisa memberikan nilai positif,” ujar Sri Mulyani kepada para wartawan.

Namun, upaya ini dirasa tak cukup karena uUntuk menstabilkan rupiah segera maka bank sentral didorong untuk menaikkan suku bunga acuannya pada rapat bulanan yang digelar minggu depan.

“Cadev (cadangan devisa) merosot dalam jumlah yang signifikan, mestinya menaikan suku bunga menjadi opsi yang ditempuh,” ujar Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS adalah hal yang wajar, mengingat depresiasi rupiah yang terjadi akhir-akhir ini lebih disebabkan oleh penguatan mata uang dolar AS terhadap hampir semua mata uang dunia.

Dan dari faktor domestik, rupiah semakin tertekan karena posisi cadangan devisa akhir April hanya US$124,9 miliar, turun dari posisi Maret sebelumnya sebesar US$126 miliar.

Sedang data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2018 -berdasarkan yang dirilis BPS- adalah sebesar 5,06%, jauh di bawah ekspektasi pasar yang mencapai 5,18%.

Perilaku spekulasi

Namun, Enny memperkirakan adanya ‘perilaku spekulasi’ yang membuat rupiah kian melemah, “Kalau sekarang menembus Rp14.000 pasti ada tambahan faktor nonekonomi. Nah di antaranya, banyak sekali perilaku spekulasi.”

Apa penyebab spekulasi ini?

“Kita lihat akrobat kebijakan kebijakan pemerintah yang punya kaitan langsung dengan rupiah, mulai dari pergantian dirut Pertamina yang mendadak, pergantian dirut Bulog” jelas Enny.

Pernyataan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, yang menegaskan perbankan masih kuat menahan sekalipun rupiah tembus Rp20.000 per dolar kian melanggengkan ulah spekulan ini.

“Ini kan bisa multi-intepretasi di pasar. Jadi kalau bank masih kuat di level Rp20.000, berarti bisa tembus Rp20.000 dong?”

“Pejabat-pejabat publik harus hati-hati membuat statemen, apalagi OJK, sehingga sebenarnya berbagai macam politik yang memicu tekanan terhadap rupiah kita,” jelas Enny.

Tren pelemahan rupiah sudah berlangsung beberapa waktu terakhir ini dengan menyentuh angka Rp14.000 per Senin awal pekan ini dan turun lagi mencapai Rp14.080 pada Rabu (09/05).

Nilai tukar rupiah secara year to date (ytd) per 8 Mei 2018 melemah 3,44%, sedangkan Peso Filipina melemah 3,72%, Rupee India 4,76%, Real Brasil 6,83%, Rubel Rusia 8,93%, dan Lira Turki 11,51%.

Enny juga menuturkan jika depresiasi rupiah terus berlanjut maka dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat ketika harga kebutuhan pokok yang kebanyakan diimpor membumbung tinggi. Apalagi, saat ini sudah mendekati Ramadan dan Lebaran.

“Yang kita khawatirkan kalau nggak ada stabilisasi nilai tukar kita akan berdampak pada kenaikan harga-harga volatile food, atau kebutuhan masyarakat,” ujar Enny.

“Jadi tanpa ada persoalan fluktuasi nilai tukar saja, setiap menjelang Ramadan pasti terjadi pergolakan harga-harga kebutuhan pokok. Kalau ditambah lagi persoalan nilai tukar, bisa menjadi tidak terkendali.”

Di sisi lain, ada persoalan geopolitik global yang membuat harga minyak dunia menjadi naik kembali hingga menyentuh level US$70 per barel, jauh dari asumsi APBN yang hanya US$48 per barel.

Pelemahan kurs rupiah yang dibarengi dengan pelonjakan harga minyak dunia juga diperkirakan akan mempengaruhi subsidi energi yang harus dikucurkan pemerintah dalam APBN.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani menuturkan saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk mengkaji neraca dua BUMN, yang didapuk untuk mendistribusikan subsidi energi, yaitu PLN dan Pertamina, yang notabene akan terkena imbas dari kenaikan harga minyak dunia.

“Sehingga nanti kita bisa buat kebijakan yang di satu sisi menjaga keuangan Pertamina sehingga BUMN bisa bekerja menjalankan tugas negara menyediakan BBM di seluruh Indonesia dengan harga terjangkau masyarakat,” katanya.
“Namun di sisi lain APBN tetap sehat dan shock yang berasal dari luar kemudian bisa diminimalkan pengaruhnya kepada masyarakat,” tambah Sri Mulyani.

Bagaimanapun upaya itu dirasakan belum cukup.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono, mengusulkan sebagai langkah jangka pendek, maka Bank Indonesia dituntut untuk menaikkan suku bunga acuannya sehingga cadangan devisa tidak terus terbebani.

Apalagi, bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunganya lagi pada bulan Juni ini.

“Yang paling di depan mata kita adalah suku bunga. Sebetulnya kalau melihat depresiasi yang sudah agak jauh, perlu 50 basis point, Cuma saya menduga kalau angkanya tinggi, direspons negatif menjadi kepanikan, perlu mempertimbangkan aspek psikologis, mungkin yang paling layak 25 basis point lagi. “

Dalam pernyataan terbarunya, bank sentral sudah memberi sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan BI Reverse Repo Rate yang saat ini bertengger di level 4,25%.

Akan tetapi Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman Zainal, menegaskan bahwa kebijakan-kebijakan alternatif baru akan diputuskan lewat rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia minggu depan.

“Tapi sekarang tetap berada di pasar (untuk intervensi) dan itu kita harus tunggu rapat dewan gubernur. Kita akan kaji dulu datanya seperti apa dan tindakan apa yang kita tempuh berikutnya,” cetusnya.

Untuk menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi, Bank Indonesia terus menempuh langkah-langkah stabilisasi termasuk terus melanjutkan intervensi di pasar valuta asing secara terukur dan stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara.(BBC)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here