Saat Generasi Milenial Dibidik

Posted by on Sep 24, 2018 | Leave a Comment

Generasi Milenial yang juga dikenal sebagai Generasi Y atau mereka yang baru pertama kali akan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Presiden 2019 menjadi spesial karena jumlahnya yang banyak sekitar 30 persen dari jumlah pemilih dan karakternya yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Generasi ini secara umum memiliki karakter kreatif, confident, dan connected. Dengan kreativitas, mereka memiliki kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru atau datang dengan gagasan-gagasan yang tidak biasa. Kepercayaan diri tinggi juga turut menyokong keyakinan mereka meraih harapan. Adapun konektivitas memastikan mereka terhubung dengan dunia melalui internet.

Spirit muda kerap pula disandingkan dengan karakter lain yang paradoksal. Belum matang secara emosional, generasi ini berani melawan arus dan menantang risiko. Dengan kecenderungan narsisistik dan perspektif memusat pada diri sendiri, mereka kadang dijuluki me generation. Meskipun terhubung dengan dunia, mereka jauh lebih memercayai teman sendiri ketimbang informasi sumber lain.

Tidak mengherankan bila calon presiden dan wakil presiden saat ini mengidentifikasi diri sebagai bagian dari, dan memperkuat komposisi tim pemenangannya dengan, sosok yang dekat dengan kaum milenial.

Apalagi survei terdahulu menunjukkan kecenderungan bahwa pemilih Joko Widodo (Jokowi), termasuk di kalangan milenial, lebih banyak daripada pemilih Prabowo Subianto. Situasi ini memberikan tantangan bagi tim kampanye masing-masing untuk mendulang dukungan pemilih milenial.

Berbagai cara para capres dan cawapres yang saat ini bertanding mencoba menarik perhatian dari kalangan generasi milenial ini.

Diakui generasi millennial ini tidak mudah untuk ditaklukkan mereka tidak tertarik cara-cara dramaturgis penampakan (appearance) politisi yang menyerupai mereka, seperti busana, kosa kata, atau hobi yang identik dengan kaum milenial. Mereka sadar, sebagai kelompok yang butuh mereka, politisi yang akan bertindak dalam cara-cara yang disukai mereka.

Merangkul pemilih milenial tak ubahnya meyakinkan calon pengguna jasa asuransi. Mereka harus dibuat yakin dengan sesuatu yang baru akan mereka dapatkan 20 atau 30 tahun yang akan datang. Karena itu tak cukup disuguhi tampilan simulatif, tetapi butuh peta jalan yang meyakinkan.

Namun pemilih generasi milenial ini juga ada kekurangannya dimana terkadang mereka hanya jago berkutat di internet dalam arti kata  lebih familiar dengan bermain pada teknologi informasi namun saat tiba masa hari H pemilihan, mereka terkadang banyak juga yang malas datang ke TPS untuk mencoblos jagoannya yang selama ini dibangga-banggakannya.

Namun jika para capres dan cawapres dapat memberikan keyakinan yang penuh atas visi dan misinya dimana dengan terpilihnya salahsatu kandidat maka pada 30 tahun mendatang untuk kesepatan kerja, keadilan ekonomi, dan peta jalan pembangunan yang jelas untuk ke depan maka tak pelak mereka akan berusaha mati-matian untuk memenangkannya dan tak mau jagoannya kalah.

Jadi memanfaatkan generasi milenial susah susah mudah, tinggal bagaimana para calon presiden dan cawapres dalam meyakinkan dan mengambil hati mereka.

Selamat berjuang para calon pemimpin bangsa, mari kita terima siapapun yang akhirnya memenangkan pertarungan ini dan tidak bermusuhan dalam berkepanjangan, kita dukung sang pemenang untk kebaikan bangsa dan negeri ini.

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here