Siantar-Parapat Putus Lagi di Jembatan Sidua-dua

Posted by on Jan 07, 2019 | Leave a Comment

Simalungun – KoranAntiKorupsi Untuk kesekian kalinya longsor menerjang Jembatan Kembar Pabrik Ganjang (Sidua-dua), Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Kamis (3/1). Akibatnya jalur transportasi utama yang menghubungkan Kota Pematang Siantar – Parapat, kembali putus total.

Tercatat, ini adalah longsor kelima yang menerjang Jembatan Sidua-dua dalam dua bulan terakhir. Pertama kali longsor menerjang pada Selasa (18/12/2018). Saat itu sejumlah kendaraan tertimpa material longsor. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Longsor kedua terjadi pada Minggu (30/12). Hanya sehari berselang, tepatnya pada sore jelang malam pergantian tahun, Senin (31/12), jembatan itu kembali diterjang longsor. Kemudian, longsor keempat terjadi lagi pada Selasa (1/12).

Setiap kali longsor terjadi dan menimbun Jembatan Sidua-dua, praktis jalur Siantar-Parapat tidak bisa dilintasi kendaraan. Proses evakuasi dan pembersihan material longsor dari badan jalan/jembatan, tidak bisa dilakukan secara cepat karena tebalnya material lumpur dan tanah serta bebatuan yang menutupi badan jalan.

Kondisi itu memicu terjadinya kemacetan panjang kendaraan hingga berjam-jam, terlebih saat masa liburan panjang Tahun Baru kemarin.

Banyak pengendara yang memilih bertahan menunggu sampai proses evakuasi longsor selesai, ketimbang harus memutar melalui jalur alternatif yang jarak tempuhnya lebih jauh karena harus mengitari kawasan Danau Toba.

Untuk peristiwa longsor terakhir, terjadi sekira pukul 12.05 WIB saat itu petugas sedang membersihkan material longsor yang sebelumnya menimbun badan Jembatan Sidua-dua.

“Kali ini longsoran sangat besar.Lebih besar dari sebelum-sebelumnya,” kata Kapolsek Parapat AKP Bambang Priyatno lewat siaran videonya yang beredar di media sosial.

Sebelum longsor terjadi, para petugas yang berjaga di lokasi sudah mendengar suara gemuruh. Lalu petugas segera bertindak cepat dengan menghentikan arus kendaraan yang akan melintasi jembatan tersebut.

“Kita arahkan untuk balik kanan ke arah Parapat atau Siantar. Untuk mencari kantong parkir terdekat atau memilih jalur alternatif lainnya,” ungkap Kapolsek.

Bambang juga memastikan, proses evakuasi tidak akan selesai dilakukan hari itu mengingat volume material longsor yang menimbun badan jalan sangat besar.

Tak hanya itu, Bambang juga mengatakan saat ini pihaknya sudah berupaya untuk naik ke atas bukit. Mereka ingin memastikan penyebab longsor yang terjadi beruntun belakangan ini. Dia juga meminta warga dan pengguna jalan selalu berhati-hati saat melintasi kawasan itu.

“Kami ingin memastikan penyebab pasti kenapa longsor terjadi terus-menerus,” ujar Bambang.

Dari video amatir warga, material longsor yang turun berupa lumpur. Saat longsor, warga yang panik tampak berhamburan menyelamatkan diri. Belum ada laporan korban hingga saat ini.

Tanda-Tanda Longsor

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan kejadian tanah longsor memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali sehingga masyarakat bisa mewaspadai.

“Kenali tanda-tanda tebing akan longsor seperti ada retakan tanah dan suara pergerakan tanah,” kata Sutopo dihubungi di Jakarta, Kamis (3/1).

Selain itu, kemungkinan akan terjadi longsor juga bisa diamati dari tanaman, pohon atau tiang-tiang yang tidak lagi berdiri tegak atau menjadi miring.

Hujan terus menerus dengan intensitas sedang hingga tinggi juga harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kandungan air tanah berlebihan sehingga memicu longsor.

“Bila menemukan tanda-tanda kemungkinan longsor, segera hubungi pihak berwenang menangani longsor. Selain itu, segera pindahkan penduduk yang terancam terdampak longsor,” jelasnya.

Sutopo mengatakan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sudah memiliki peta potensi bencana longsor untuk masing-masing wilayah pada jangka waktu tertentu yang bisa diakses melalui portal resmi lembaga tersebut.

“Sayang belum banyak masyarakat dan pemerintah daerah yang mengakses peta potensi bencana longsor itu,” ujarnya.

Untuk mengurangi risiko dampak tanah longsor, Sutopo mengatakan penataan tata ruang dan wilayah sangat penting dengan memperhatikan peta rawan bencana.

“Wilayah-wilayah yang memiliki risiko bahaya bencana tinggi seharusnya bukan untuk permukiman atau pertanian, melainkan untuk konservasi,” tuturnya.

Kendati begitu Sutopo mengatakan tidak ada kepastian kapan longsor akan terjadi meskipun sudah ada tanda-tanda akan terjadi longsor. “Meskipun tanah sudah retak sebagai tanda-tanda akan terjadi longsor, tetapi tidak bisa dipastikan kapan akan terjadi longsor,” kata Sutopo. (ADLS)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here