Soal Uang Ratusan Juta di Laci Menag, KPK Cari Bukti Lain

Posted by on May 27, 2019 | Leave a Comment

Jakarta – KoranAntiKorupsi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengklaim uang US$30 ribu dan Rp180 juta di laci pada ruang kerjanya yang diamankan KPK merupakan akumulasi dari berbagai sumber, mulai honorarium hingga sisa dana operasional menteri. Uang itu disita penyidik KPK beberapa bulan lalu saat menggeledah Kemenag terkait kasus dugaan suap jual beli jabatan yang menjerat Romahurmuziy atau Romi.

Hal itu dikatakan Lukman usai diperiksa KPK. Lukman diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Romi.

“Ya saya jelaskan bahwa semua itu adalah akumulasi dari dana operasional menteri yang saya simpan dalam laci meja kerja saya,” kata Lukman di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/5).

Lukman juga menyatakan sebagian uang yang ada di lacinya itu merupakan honorarium ia terima dari berbagai kegiatan yang dilakukan, seperti ceramah dan pembinaan baik di internal maupun di luar Kemenag.

“Juga sebagian merupakan sisa dana perjalanan dinas saya, baik keluar negeri ataupun di dalam negeri,” kata dia.

Karena itu, Lukman menyatakan bahwa semua itu merupakan uang-uang yang terkumpul dari beberapa sumber dan disimpan di dalam laci ruang kerjanya.

“Jadi semua itu adalah akumulasi dari semua sumber tadi yang lalu kemudian biasa saya simpan di laci meja kerja saya,” tambah Lukman.

Atas keterangan tersebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal mencari bukti lain soal uang US$30 ribu dan Rp180 juta yang ditemukan di laci Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin. Bukti lain itu masih terkait dengan pengembangan pengembangan kasus jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag).

“Kita akan melihat bukti-bukti lain terkait dengan sumber dana uang tersebut,” kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/5).

Lukman diperiksa penyidik KPK dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy. Uang di laci Lukman sebelumnya diduga terkait kasus.

Selain proses penyidikan terkait kasus suap seleksi jabatan di Kemenag, KPK pun pada Rabu (22/5) juga telah memintai keterangan Menag dalam proses penyelidikan terkait penyelenggaraan haji.

Seperti diketahui, kasus dugaan jual beli jabatan di Kemenag bermula dari operasi tangkap tangan di Surabaya, 16 Maret 2018. Ada lima orang lain dicokok oleh komisi antirasuah. Dua di antaranya adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Haris Hasanuddin dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi. KPK mengamankan barang bukti uang berjumlah Rp156.758.000.

Haris dan Muafaq diduga berperan sebagai pemberi suap, sementara Romi sebagai penerima.

Sebagai penerima, Romi disangkakan Pasal 12 a atau 12 b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.(BEN/INT)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here