TKI Asal Siantar Terancam Hukuman Mati di Malaysia

Posted by on Jan 07, 2019 | Leave a Comment

Pematang Siantar – KoranAntiKorupsi Jonathan Sihotang (31), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Pematang Siantar, Sumatera Utara, kembali menjalani sidang di Mahkamah Majistret akhir Desember 2018 atas tuduhan membunuh majikannya. Selain majikannya seorang perempuan, dia juga didakwa mencederai dua anak laki-laki majikannya di Tasek Gelugor, Malaysia.

Majikannya bernama Sia Seok Nee (44) warga Kilang Toto Food Trading No. 4897, Kampung Selamat, Tasek Gelugor. Sedangkan, dua anak korban yang mengalami luka-luka Yong Wei Keong (14) dan Sia Yung Jern (17).

Dilansir dari media Malaysia, Utusan Online, dugaan pembunuhan tersebut terjadi pada 19 Desember 2018. Dalam persidangan, Jonathan dituntut hukuman mati.

Jonathan sendiri tegas mengaku tidak bersalah saat jaksa penuntut membacakan dakwaan di hadapan hakim. Persidangan akan dilanjutkan pada 1 Februari 2019 mendatang. Saat ini, Jonathan ditahan di penjara Pulau Pinang, Georgetown.

Diberitakan media ini sebelumnya, saksi kejadian Akhbar melaporkan Jonathan melakukan tindakan tersebut setelah terjadi pertengkaran dengan ketiga-tiganya lantaran selama bekerja dia tidak digaji.

Mayat Sia Seok Nee sendiri ditemukan di gudang penyimpanan makanan beku di lokasi. Usai peristiwa tersebut, Jonathan ditangkap Polisi Diraja Malaysia di Petaling Jaya, Selangor diduga hendak melarikan diri dengan menaiki taksi.

Sementara itu, informasi yang dihimpun, keluarga Jonathan di Siantar sedang menyusun bantuan hukum agar Jonathan bisa terbebas.  Parluhutan Banjarnahor, kuasa hukum keluarga Sihotang, menjelaskan pemerintah Indonesia telah melakukan pendampingan hukum.

“Jonatan telah mengikuti persidangan pada Senin 31 Desember 2018. Informasi ini didapatkan team pengacara keluarga dari konsulat indonesia di Penang Malaysia,” katanya kepada jurnalis di Jalan Damar Laut, Kecamatan Siantar Utara, Jumat (4/1).

Parluhutan mengatakan keluarga terdakwa sangat berharap kepada pemerintah Indonesia untuk terus melakukan pendampingan. Selain itu, katanya, keluarga berharap ada keringanan hukuman terhadap Jonatan.

Keluarga juga berharap pemerintah dapat memfasilitasi pertemuan dengan terdakwa. “Karena sampai saat ini keluarga tidak dapat mengunjungi Jonatan atau pun berkomunikasi,” ujar Parluhutan. (PJS/TBN)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here