Tragedi Air Keras dan Anomali Novel

Posted by on May 08, 2017 | Leave a Comment

Sebutkan nama penyidik Komisi Pemberantasan korupsi (KPK), kecuali Novel Baswedan? jika tak bisa menjawab, Anda patut berbangga. Karena KPK masih bekerja dengan tenang. Ada sekira 250 penyidik yang bekerja di lembaga antirasuah. Tapi, hanya Novel yang dikenal khalayak. Apakah itu wajar?

Nnovel Baswedan dianggap sebagai sebuah paradoks. Musababnya, dalam kinerja mestinya penyidik bersifat sembunyi-sembunyi, tak menonjol, dan di balik layar. Sudah kodratnya, identitas penyidik tak boleh bocor ke publik.

Tengok saja, setiap kali ada konfrensi pers KPK, beberapa penyidik selalu menunjukkan barang bukti korupsi dengan memakai sarung tangan dan penutup wajah. Itu dilakukan agar tak mudah dikenali.

“Tapi, Novel itu anomali. Terlalu exposed, terlalu dikenal media,” ujar Adrianus Meliala.

Popularitas Novel mulai menanjak sejak 2012. Dia ditunjuk sebagai ketua satuan tugas KPK yang menyidik dugaan korupsi simulator SIM (surat izin mengemudi) di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri yang menjerat Kakorlantas, Irjen Djoko Susilo. Kasus tersebut berujung dengan ketegangan korps bhayangkara dengan komisi antirasuah, dikenal dengan peristiwa “geger cicak versus buaya jilid kedua”.

Keberanian Novel mengungkap kasus-kasus korupsi kelas kakap bukan tanpa hambatan. Aksi balasan untuk menyeret Novel ke meja hijau pernah dilakukan. Antara lain dengan mengadukan Novel sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam kasus dugaan penembakan pencuri sarang burung walet di Bengkulu pada 2014.

Saat itu, Novel masih menjabat Kasatreskrim Polres Bengkulu, sebelum bertugas di KPK. Aduan itu diproses aparat kepolisian, kemudian Novel ditetapkan sebagai tersangka. Semenjak itu, Novel kerap mendapat ancaman atau bahkan serangan dari orang-orang misterius.

Belum lama ini, kasus penyiraman air keras yang menyerang Novel turut menghebohkan pemberitaan. Penyidik senior di KPK itu kembali jadi sorotan. Novel mendapat luka serius di kedua matanya.

Peristiwa penyiraman ini menuai kecaman publik dari berbagai kalangan dan perbincangan tema ini ramai di berbagai forum media sosial. Berbagai bentuk simpati dan dukungan tertuju kepada Novel.

Bahkan, tak kurang hingga Presiden Joko Widodo mengutuk aksi serangan menggunakan air keras terhadap Novel. Permintaan Jokowi kepada kepolisisan agar segera menangkap pelaku penyiraman itu juga menegaskan betapa kasus ini pun membetot perhatian elit pemerintahan.

Menurut Adrianus, nyali Novel mengungkap kasus-kasus korupsi yang melibatkan orang besar patut diacungi  jempol. Tapi, biarkan itu menjadi prestasi sebuah lembaga. Biarkan KPK tetap menjadi komunal. Sebab kerja penyidik itu bersifat kolektif.

“Saya tahu dia berani, ahli dalam fase penyidikan, tapi dia penyidik bukan selebriti”, ujar mantan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) ini.

Figur Novel yang amat terbuka memiliki konsekuensi. Baik bagi Novel maupun lembaganya. Novel yang sudah dikenal publik rentan menjadi target sasaran pihak tertentu. Penyerangan air keras yang terjadi pada pagi itu, Selasa 11 April, adalah salah satu harga yang harus dibayar. Hingga kini, penyerangan itu menyisakan motif yang masih belum terpecahkan.

TEROR atau DENDAM?

Adrianus menjelaskan, serangan vitriologe atau serangan menggunakan cairan asam merupakan jenis serangan yang menghasilkan perlukaan eksesif. Maksudnya, korban penyerangan merasakan penderitaan yang berulang-ulang.

Serangan air keras galibnya dikaitkan dengan tiga motif konvensional; cemburu, dendam, dan motif kolektif. Motif kolektif itu seperti konflik antargolongan, perang antarsuku, tawuran antarkampung, dan sebagainya.

Dibeberkan Adrianus, sebuah hasil studi menunjukkan, modus penyerangan air keras sering ditemukan keterkaitannya dengan motif domestik antara pelaku dan korban. Apabila ditarik ke dalam konteks kasus Novel, akan ada koneksi tiga motif domestik: memiliki selingkuhan, memiliki masalah pribadi dengan orang lain, persaingan bisnis dan atau masalah yang memicu ketiga motif tersebut.

Jika Novel tak memiliki kaitan dengan ketiga motif domestik, maka ada kemungkinan motif lain di balik serangan itu. “Motif jadi penentu, modusnya sama saja,” kata dia.

Menurut Adrianus, guna memudahkan penggalian motif untuk menangkap adanya gejala kejahatan, maka serangan air keras kepada Novel harus dipahami sebagai sebuah tindakan teror. Sebab, pola serangan sudah cukup menjelaskan serangan itu salah satu bentuk terorisme.

Teror merupakan suatu pengiriman pesan melalui aneka kode. Ada pengiriman pesan melalui kode lembut, sepert melalui senyuman, batuk buatan, surat, dan sebagainya. Ada pula lewat kode keras, seperti ancaman melalui audio atau visual, penculikan,  percobaan pembunuhan, termasuk serangan air keras yang membahayakan nyawa. Kode yang disampaikan menyimpan sebuah pesan. Konten pesan itu lah yang menyimpan motif kejahatan.

Jika serangan itu dipahami sebagai tindakan teror, maka ada tiga kemungkinan yang menjadi motif pelaku. Pertama, serangan kepada pribadi Novel, kedua, terkait kasus yang ditangani Novel, dan terakhir terkait lembaga tempat Novel bertugas.

“Kemungkinan pertama, ada orang yang tidak suka dengan karakter pribadi Novel,” ujar Adrianus Meliala.

Persepsi yang terbangun pascaserangan air keras kepada Novel adalah berkaitan dengan kasus dugaan megakorupsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Meskipun belum terkonfirmasi, awam meyakini itu terkait kasus e-KTP, sebab Novel diketahui menjadi Ketua Satgas penyidikan kasus proyek KTP elektronik.

“Mungkin serangan itu adalah jembatan saja untuk menyampaikan pesan untuk tidak menyentuh kasus e-KTP,” tutur alumnus University of Queensland Australia ini.

Eksistensi KPK dalam memerangi korupsi juga bisa menjadi motif pelaku. Mungkin saja, penyerangan Novel untuk mencegah kinerja KPK dalam memberantas korupsi.

“Ketiga, pesan yang ingin disampaikan untuk mengurangi keberanian KPK. Misalnya, KPK boleh saja memberantas korupsi asal jangan menyentuh kasus-kasus tertentu,” imbuh dia.

Tantangan

Tanpa motif, kasus penyiraman air keras tidak akan sulit diungkap. Kendala lain, pelaku utama atau orang yang merencanakan serangan sulit dijangkau. Sebab, pelaku utama selalu menggunakan perantara untuk melancarkan kejahatannya.

“Penggunaan perantara itu yang membuat sulit. Bisa jadi, hubungan antara ekskutor dengan pelaku utama terlalau jauh,” kata Adrianus.

Kenapa polisi bisa menangkap terorisme radikal? Mungkin pertanyaan itu muncul di benak awam. Adrianus menerangkan, polisi sudah bergerak cukup lama untuk memiliki data terkait kelompok terorisme keagamaan. Serangan terhadap Novel, adalah bentuk terror di luar keagamaan.

“Jangan lupa, polisi bisa sampai sekarang itu mulai dari tahun 2000. Polisis memiliki database yang luar biasa, sehingga dari pola serangan, dari bentuk bomnya, dari komunikasi yang dijalankan, bisa diketahui siapa pelakunya, karena ampunya rekam jejak yang dimiliki polisi. Tapi teror di luar jaringan keagamaan, polisi nol lagi,” pungkas  Kriminolog dari Universitas Indonesia,  seperti dikutip Metrotvnews.com. (IN/BBS)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here