Uang Suap Logistik Kampanye Akhirnya 2,8 M Ditemukan

Posted by on Mar 12, 2018 | Leave a Comment

korupsiJakarta – KoranAntiKorupsi Akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil mengamankan uang suap yang sempat disembunyikan oleh Wali Kota Kendari non aktif, Adriatama Dwi Putra. Uang tersebut ditemukan di kamar rekan Adritama setelah sempat disembunyikan di satu lapangan.

Uang suap sebesar Rp2,8 miliar pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari Tahun 2017-2018 diminta oleh Wali Kota Kendari Adriatma Dwi dengan tujuan untuk memenuhi logistik kampanye ayahnya, Asrun yang maju jadi menjadi calon Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra).

Asrun maju sebagai calon Gubernur Sultra yang diusung PDI Perjuangan (PDIP, Partai Amanat Nasional (PAN), Hanura, Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan mengatakan, dugaan adanya penyembunyian uang oleh anak Calon Gubernur Sulawesi Tenggara, Asrun, berawal dari temuan adanya transaksi tarik tunai sebesar Rp 1,5 miliar oleh staf PT Sarana Bangun Nusantara (SBN), penyuap Adriatama.

“Kemudian uang tersebut dibawa ke Hasmun Hamzah (Direktur PT SBN) dan diduga ia menambahkan Rp 1,3 miliar sehingga uang menjadi Rp 2,8 miliar dan mengemasnya dalam kardus,” ujar Basaria saat menjalani konferensi pers di gedung KPK, Jumat (9/3).

Setelah itu, uang yang telah dibungkus kardus dibawa staf PT SBN dan diberikan seseorang berinisial W. Setelah berpindah tangan, uang dibawa ke lapangan yang telah disepakati antara Hasmun dengan Adriatama. Di sana, ujar Basaria, telah menunggu seseorang berinisial K.

Pukul 23.00 WITA, W tiba di lokasi yang telah ditentukan sambil mematikan lampu mobil. Uang kembali berpindah dari tangan W ke K. Keduanya sempat mengganti kardus sebelumnya. “Usai diterima K, uang kemudian dibawa ke I (orang dekat Adriatama),” ujarnya.

Keesokan harinya, sekitar pukul 11.00 WITA tim KPK berhasil mengamankan uang tersebut dengan pecahan Rp 50 ribu dengan total keseluruhan Rp 2,8 miliar, kurang Rp 1,7 juta. Basaria menyebut, uang yang sempat berpindah tangan itu direncanakan akan dibagi-bagikan ke masyarakat saat Asrun melakukan kampanye.

Atas perbuatannya, Adriatama dan Asnur disangkakan melanggar Pasal 11 atau 12 huruf a atau huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Sebelumnya KPK telah menetapkan Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan ayahnya, yang juga calon gubernur Sulawesi Tenggara Asrun, mantan Ketua BPKAD Fatmawati Faqih, dan Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara Hasmun Hamzah sebagai tersangka.

Mereka diduga terlibat dalam kasus dugaan suap terkait pengadaan barang dan jasa di Pemkot Kendari. Uang suap tersebut disinyalir diminta oleh Adriatma untuk kepentingan biaya politik atau kampanye sang ayah, Asrun, yang mencalonkan diri di Pilgub Sultra.

“Permintaan dari Wali Kota Kendari untuk kepentingan biaya politik dari ASR (Asrun), cagub di Sultra yang merupakan ayah dari wali kota,” ucap Basaria.(INT/BEN)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here