Warga Pandumaan- Sipituhuta Jadi Korban PT TPL

Posted by on Mar 04, 2013 | Leave a Comment

PT TPL Kembali Berkonflik

PT-TPLSejak Januari 2013, warga dua desa, Pandumaan dan Sipituhuta sudah berjaga di hutan kemenyan mereka, pasca adanya informasi dari pihak kepolisian bahwa PT TPL sudah memperoleh Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2013 sekitar 3000 hektar di lokasi hutan kemenyan milik warga dua desa ini.

Dengan RKT tersebut maka PT TPL akan segera melakukan aktifitasnya kembali di hutan kemenyan yang merupakan wilayah adat dan sumber hidup utama warga.

SETIAP kali ada pekerja PT TPL yang bermaksud melakukan penebangan di lahan, warga segera melarangnya.

Namun para pekerja perusahaan ini masih tetap melakukan aktifitas penebangan dan penanaman mau pun pemupukan bibit eucalyptus yang segera di tanami para pekerja di lahan bekas penebangan.

Pada 25 Januari 2013, warga menyampaikan surat pengaduan ke Polres atas tindakan PT TPL yang masih terus melakukan penebangan di lahan, tepatnya di lokasi Dolok Ginjang.

Atas pengaduan warga ini, pada 30 Januari 2013, Kapolres bersama Uspida Kabupaten Humbang Hasundutan telah melakukan investigasi ke lapangan yang dilanjutkan dengan dialog (pertemuan) bersama warga di kantor TPL sektor Tele.

Kesepakatan pada dialog ini: akan di adakan musyawarah bersama para pihak tentang rencana pihak PT TPL yang akan melakukan penebangan eucalyptus yang berada di wilayah adat warga dua desa tersebut.

Namun, musyawarah di maksud belum berlangsung, pada 21-22 Januari 2013 PT TPL melalui kontraktor (CV Rolan) sudah melakukan aktifitas kembali di areal Dolok Ginjang dan Aek Sulpi. Warga pun kembali melarang para pekerja ini, dan meminta para pekerja meninggalkan wilayah adat tersebut.

23 Februari 2013, 5 warga yang sedang bekerja di lahan mereka, hampir bentrok dengan para pekerja PT TPL. Karena kalah jumlah, warga dikejar oleh para pekerja namun berhasil menyelamatkan diri dan pulang ke kampung.

24 Februari 2013, sekitar 25 warga kembali menyaksikan para pekerja melakukan aktifitas dilahan, yakni menanami areal bekas penebangan kayu tersebut dengan eucalyptus.

Warga pun melarang para pekerja tersebut dan meminta agar pihak PT TPL menghormati kesepakatan yang sudah ada antara warga dengan pihak TPL, Polres, dan Uspida.

Namun para pekerja tidak mengindahkan dan tetap melakukan aktifitasnya.

Kronologis kejadian Senin pagi (25/2), sekitar 250 laki-laki pergi ke tombak di Dolok Ginjang karena informasinya PT TPL melakukan kegiatan menebang, menanam serta memupuk eukaliptus. Pukul 13:52, warga membunyikan lonceng gereja untukmemberi kabar bahwa Roi Lumban Batu, warga Sipituhuta di tangkap Brimob.

Pukul 14.17, mobil Brimob beserta satu mobil polisi melintasi simpang Marade menuju lokasi konflik. Kaum ibu memberhentikan mobil tersebut dengan kayu.

Namun mobil Brimob tidak berhenti dan tidak memperdulikan aksi dan nyaris menabrak seorang ibu. Tiba-tiba terdengar suara seperti tembakan.

Akhirnya massa mundur dan mobil meneruskan perjalanan. Pukul 15.20, informasi dari tombak bahwa 16 petani di tangkap Brimob.

Sempat terjadi kejarkejaran antara massa petani dengan mobil patroli dari arah Hutapaung, Desa tetangga Pandumaan. Mobil selamat dari kejaran massa dengan berbalik arah melalui jalan lain.

Selasa pagi (26/2), kembali lima warga di tangkap polisi dan di tahan di Mapolresta Humbang Hasundutan tanpa alasan yang jelas. Penyisiran oleh Brimob juga dilakukan ke rumah-rumah warga.

Elemen masyarakat Sumut turut bersolidaritas kepada korban kesewenangwenangan polisi dan mendesak pembebasan 21 warga yang ditangkap.

Hentikan aktivitas PT TPL di tanah adat milik rakyat, tegakkan profesionalisme kepolisian, polisi seharusnya melindungi rakyat bukan menjadi ‘centeng’ perusahaan.

Hentikan segala bentuk diskriminasi hukum dan mendesak pemerintah untuk melakukan penyelesaian konflik tanah di Pandumaan- Sipituhuta dengan melibatkan rakyat secara penuh. (TIM KRONOLOGIS KSPPM/MEI)

Leave a comment

To use reCAPTCHA you must get an API key from https://www.google.com/recaptcha/admin/create