Waspadai Uang Palsu Jelang Lebaran

Posted by on Jul 29, 2013 | Leave a Comment

Uang_PalsuPihak kepolisian dan Bank Indonesia meminta masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu (Upal). Pasalnya, momen menjelang datangnya hari raya Idul Fitri 1434 H, rawan untuk peredaran upal.

Penyebaran upal dilakukan dengan beragam cara. Misalnya dengan membeli sejumlah barang ke toko swalayan dan bensin ke SPBU.

Oleh karena itu, bila ada warga yang menemukan upal agar segera melaporkan ke aparat kepolisian. Sehingga penyebaran upal tersebut bisa segera dilacak hingga ke pengedar dan penggandanya.

Bank Indonesia (BI) mencatat, peredaran uang palsu tahun 2013 mengalami penurunan jika dibandingkan peredaran di tahun 2012. Menurut Deputi Gubernur BI Ronald Waas, pada tahun 2012 uang palsu yang beredar mencapai 8.000 lembar per bulannya. Sedangkan tahun 2013, tiap bulan uang palsu yang beredar rata-rata sebanyak 4.000 lembar.

“Peredaran uang palsu saat ini rata-rata per bulan 4000 lembar atau 4 lembar per 1 juta bilyet,” ujar Ronald saat meninjau penukaran uang tunai di Jakarta, Senin.

Dari beberapa jenis pecahan uang, lanjut Ronald, ternyata pecahan Rp100 ribu menjadi jenis yang paling banyak dipalsukan. Sayangnya, ia belum bisa mengungkapkan jumlah pasti nilai peredaran uang palsu yang terjadi. Agar bisa meminimalisir maraknya peredaran uang palsu menjelang lebaran, BI akan memperketat pengawasannya.

Bank Indonesia (BI) meminta masyarakat mewaspadai kemungkinan bakal maraknya peredaran uang palsu menjelang Lebaran tahun ini. “Untuk menanggulanginya, kami sudah bekerja sama dengan instansi terkait. Kami terus melakukan sosialisasi peredaran uang palsu ke masyarat,” kata Deputi Gubernur BI, Ronald Waas.

Ronald mengaku peredaran uang palsu di masyarakat sebenarnya tidak hanya terjadi menjelang Lebaran, namun juga beredar pada hari-hari umumnya. Akan tetapi, intensitas peredaran uang palsu lebih meningkat menjelang Idul Fitri.

“BI sudah melakukan sejumlah langkah untuk menanggulangi hal ini, supaya masyarakat tidak terjebak,” jelas dia.

Meski demikian, lanjut Ronald, BI masih menghadapi sejumlah kendala untuk menghilangkan praktik peredaran uang palsu di tengah masyarakat. Karena itu, BI berharap industri perbankan bisa ikut meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu.

“Kami minta kepada bank-bank untuk bisa bekerja sama dengan BI, terutama menjelang Lebaran. Kami juga melakukan sosialisasi agar masyarakat mudah memahami mana uang palsu dan mana uang yang benar,” tutur Ronald.

Bakal Ditekan

Pada tahun mendatang, kata Ronald, BI meyakini akan mampu menekan secara signifikan peredaran uang palsu menjelang Lebaran. BI akan lebih intensif memperketat kontrol peredaran uang palsu dan meningkatkan kerja sama dengan perbankan.

Sementara itu, mendekati hari raya, animo masyarakat yang memanfaatkan jasa penukaran uang rupiah pecahan kecil yang dilakukan BI terus meningkat. Sejak beroperasi pada 10 Juli 2013, gerai penukaran uang di Lapangan IRTI Monas dipadati masyarakat yang akan menukarkan uang.

Data BI menyebutkan, jumlah uang pecahan kecil yang ditukar sampai 19 Juli 2013 mencapai Rp9,47 miliar. “Selama periode 10–19 Juli 2013, jumlah penukar sebanyak 4.595 orang,” kata Direktur Peredaran Uang BI, Lambok A Siahaan.

Menurut dia, langkah yang ditempuh bank sentral dengan membuka pelayanan penukaran uang pecahan kecil tersebut dimaksudkan untuk menghindari menjamurnya perdagangan mata uang rupiah yang juga dibeli dengan rupiah. Karena itu, BI menginisiasi dengan membuka gerai penukaran uang di Monas.

Penukaran uang itu, kata dia, akan ditutup 2 Agustus 2013. Layanan ini bekerja sama dengan 11 bank yang membentuk stan-stan penukaran uang pecahan 2.000 hingga 20.000 rupiah. Dia mengaku minat penukaran uang paling besar adalah untuk pecahan 5.000 rupiah dan 10.000 rupiah.

Berdasarkan catatan di tahun-tahun sebelumnya, kebutuhan uang tunai menjelang Lebaran bisa mencapai 103 triliun rupiah. Menurut Lambok, kebutuhan penukaran uang di Monas diperkirakan akan mencapai 58,4 miliar rupiah.

Peredaran Upal di Sumut Meningkat Tajam

Peredaran uang palsu atau upal di Sumatera Utara (Sumut) hingga kini belum juga dapat diminimalisir, baik oleh perbankan maupun kepolisian. Pasalnya, peredaran upal di Sumut masih tergolong tinggi dengan nominal ratusan juta yang dihimpun pada semester I ditahun 2013. Jumlah ini meningkat tajam jika dibandingkan periode yang sama tahun 2012.

Berdasarkan data BI, upal yang berhasil dihimpun pada semester I di tahun 2013 tercatat sebanyak  Rp119,62 juta. Upal tersebut mengalami peningkatan tajam jika dibanding pada semester I ditahun 2012 yang hanya Rp71,09 juta.

“Itu yang masih dihimpun oleh bank, belum lagi yang dihimpun oleh pihak kepolisian, pengaduan masyarakat dan lainnya. Ini menandakan peredaran upal di Sumut masih tinggi,” kata pengamat ekonomi dari Sumut, Muhammad Ishak.

Semakin bertambahnya upal juga menandakan kalau perekonomian masyarakat  sangat rentan dengan kemiskinan. Biasanya, upal kerap dikaitkan dengan kurangnya kesejahteraan masyarakat.

“Karena sulitnya memenuhi kebutuhan akibat ketersediaan lapangan kerja yang terbatas, maka bisa diyakini keberadaan upal adalah salah satu cara mendapatkan uang dengan cara mudah. Ini karena sulitnya perekonomian di Sumut,” ujarnya.

Melihat dari kondisi Sumut yang tepatnya pada Maret lalu sedang melaksanakan pilkada, tidak dipungkiri kalau meningkatnya upal juga bisa saja terjadi karena ada pesta demokrasi dan perayaan tertentu.

Apalagi, katanya, mendekati bulan puasa dan juga hari raya Idul Fitri merupakan momentum bagi pihak yang tidak bertanggungjawab untuk memperbanyak penyebaran upal.

Menurutnya, pihak perbankan dan kepolisian tidak hanya perlu mensosialisasikan kewaspadaan masyarakat terhadap upal. Sebaiknya perbankan dan kepolisian tidak hanya menunggu laporan dari masyarakat tetapi juga menyelidiki jaringan peredaran upal dan dengan segera memutus mata rantainya.

Selama ini, pihak perbankan melalui Bank Indonesia (BI) wilayah IX Sumut-Aceh, hanya melakukan sosialisasi dengan menerangkan perbedaan uang palsu dengan uang asli. Hal ini dilakukan dengan cara 3D yakni dilihat, diraba, dan diterawang.

“Kita hanya mengimbau kepada masyarakat agar waspada terhadap peredaran upal, khususnya pada saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Bisa digunakan melalui 3D yakni dilihat, diraba, dan diterawang,” ucap Pimpinan BI Wilayah IX Sumut-Aceh, Hari Utomo. (TIM)

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here