Yara Laporkan Kanit Reskrim ke DIVPROPAM

Posted by on Jan 07, 2019 | Leave a Comment

Ketua YARA Abdya, Miswar

Ketua YARA Abdya, Miswar

Abdaya – KoranAntiKorupsi Kepala unit (kanit) Reserse Kriminal polsek tangan tangan dilaporkan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) ke Divisi Propesi Pengamanan (Div propam)polres Abdya terkait penangkapan AFR (19), warga Gampong Blang Padang, Kecamatan Tangan-Tangan atas dugaan tindak pidana pencurian.

Bahkan YARA juga akan melakukan praperadilan terhadap institusi Polres Abdya terkait prosedural penangkapan yang dinilai janggal.

Ketua LSM YARA Abdya Miswar kepada wartawan mengatakan banyak kejanggalan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Abdya saat melakukan proses penangkapan terhadap warga Kecamatan Tangan-Tangan dalam kasus dugaan pencurian ini.ungkap Miswar.

Miswar menjelaskan, Senin (24/12), polisi menangkap AFR di RSUD Teungku Peukan usai magrib. Penangkapan tersebut berdasarkan laporan warga Gampong Blang Padang berinisial KH (80) yang menyebutkan bahwa  AFR telah mencuri emas miliknya. Berdasarkan laporan tersebut kata Miswar, antara pelaporan dan penangkapan berselang selama enam hari. Menurut pengakuan ARF, bahwa  YARA menemukan kejanggalan dalam proses penangkapan, seperti tanpa alat bukti permulaan yang cukup. Selain itu surat penangkapan juga tidak ditembuskan ke pihak keluarga ARF (vide Pasal 18 Ayat 3 KUHAP).

“Pada fase penangkapan ini, terduga (ARF) dibuat seakan-akan melakukan kejahatan tertangkap tangan, padahal polisi hanya mengumpulkan bukti awal menurut keterangan korban, intinya mereka (polisi) melewatkan tahapan penyidikan. Seharusnya, terduga harus dipanggil dulu sebagai saksi, bukan langsung dilakukan penangkapan,” ungkap Miswar.

Atas persoalan tersebut, selaku kuasa hukum ia telah melaporkan Kanit Reskrim Polsek Tangan-Tangan ke kesatuan Polres Abdya sesuai dengan  laporan polisi nomor: LP/16/XII/HUK.12.10/2018/Sipropam. “Atas tindakan kesewenang-wenangan tersebut, kami akan mengambil langkah dengan mempraperadilankan Polres Abdya, serta akan menyurati Mabes Polri, pungkas Miswar.

Sementara , Kapolres Abdya, AKBP M. Bashori SIK, di Mapolres Abdya mengatakan, meskipun pihak terduga merasa keberatan saat proses penangkapan, itu memang sudah menjadi wewenang kepolisian.

“Masalah borgol-memborgol, itu masalah prosedural. Karena kita tidak mau berandai-andai, apalagi ada rasa kasihan dalam proses penangkapan, karena jika terjadi sesuatu, karena terduga tidak kita borgol saat proses penangkapan, siapa yang akan bertangung jawab kalau dia lari dan loncat, terus jatuh dan meninggal, siapa yang dikomplain. Sebenarnya, justru karena begitu kita memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, kita harus lindungi meski statusnya patut diduga,” ujarnya.

Menurut Kapolres, pihaknya tidak melakukan penangkapan paksa terhadap terduga, apalagi keberatan pihak terduga hanya karena diborgol.

“Ini semua masalah prosedur bukan masalah formil dan materilnya. Kecuali terduga tidak cukup alat bukti kemudian ditangkap paksa lalu diproses  sampai ke pengadilan. Inikan tidak demikian, malah 1×24 jam terduga kita lepaskan,” jelas Kapolres.

Kapolres menambahkan , jika pihak keluarga merasa keberatan atas penindakan, kemudian meminta bantuan Hukum dari YARA, menurutnya  itu merupakan hak setiap warga negara Indonesia. “Jika anggota saya salah, akan kita proses, namun jika benar, harus diberi porsi bahwa anggota saya yang benar. Namun demikian kita tunggu saja bagaimana hasil pemeriksaan di Provos nantinya,” tutup Kapolres.

Leave a comment

 
Enter Analytics/Stat Tracking Code Here